RSS Feed

PENGARUH PROGRAM DOKUMENTER TERHADAP PERSEPSI PUBLIK Studi : Program KPK (Kumpulan Perkara Korupsi) di TransTV

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Korupsi di Indonesia semakin merajalela, tidak hanya dilihat dari jumlah kasus, tetapi juga dari modus yang dilakukan. Sampai tahun 2007, KPK berhasil melakukan penyelidikan sebanyak 158 kasus dari total 479 kasus, bersumber dari pengaduan masyarakat dan sumber lainnya. Dari 158 kasus yang diselidiki, 72 perkara ditingkatkan ke penyidikan, 60 perkara masuk ke penuntutan, 43 perkara telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht) dan 41 diantaranya telah dieksekusi (http://search.yahoo.com/ search?p=KPK&fr=yfp-t501&toggle=1&cop=mss& ei =UTF-8&fp_ip=ID&vc=).

Beberapa Undang-Undang pun ditetapkan untuk menindaklanjuti para pelaku korupsi seperti Undang-Undang No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, kemudian diikuti dengan Undang-Undang No.31 Tahun 1999 sebagai penyempurnaan atas Undang-Undang No. 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TPK) (http://search.yahoo. com/search?p=KPK&fr=yfp-t-501&toggle=1&cop=mss&ei=UTF-8&fp_ip=ID&vc=).

Undang-Undang ini menegaskan bahwa tindak pidana korupsi sangat merugikan kekayaan negara atau perekonomian negara.dan menghambat pembangunan nasional, sehingga harus diberantas dalam rangka mewujudkan masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (http://search.yahoo. com/search? p=KPK&fr=yfp-t-501&toggle=1&cop=mss&ei=UTF-8&fp_ip=ID&vc=). Belakangan, Undang-Undang ini disempurnakan kembali dan diubah dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 (http://search.yahoo.com/search?p=KPK&fr=yfp-t-501&toggle=1&cop=mss &ei=UTF-8&fpip=ID&vc=)

Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002, menjadi begitu berperan dalam pemberantasan tindak pidana korupsi. KPK berperan sebagai lembaga negara yang independen dari kekuasaan manapun dalam melaksanakan tugasnya. Tugas dari KPK ini adalah melakukan koordinasi dan supervisi terhadap upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang berwenang, melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi, dan melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara (http://search.yahoo.com/search?p=KPK&fr=yfp-t-501&toggle=1&cop=mss &ei=UTF-8&fpip=ID&vc=)

. Kinerja KPK ini menjadi inspirasi bagi sebuah tayangan di TransTV yang bertajuk sama, yaitu ”KPK” Kumpulan Perkara Korupsi. Program yang ditayangkan mulai Juli 2008 lalu ini, berisi mengenai hasil peliputan peristiwa korupsi, mulai dari dugaan, pelaporan, penangkapan, persidangan, sampai pada putusan pengadilan (http://www.indofamily.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1515&Itemid=39)
Program ini memberi informasi kepada penonton TV mengenai bagaimana modus tindak korupsi di Indonesia dilakukan. Ditayangkan setiap Senin pk.19.00-20.00, program ”KPK” memanjakan penonton dengan suguhan unsur-unsur dramatisnya tatkala menyuguhkan adegan sang koruptor menangis meraung-raung mendengar putusan pengadilan.

Program ”KPK” memunculkan bias yang mampu mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kasus korupsi tertentu yang ditayangkan, yang beberapa diantaranya masih belum mendapat putusan pengadilan (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/ 12/0213564/perkara.korupsi.di.layar.kaca). TV merupakan media massa yang memiliki cakupan penayangan area yang cukup luas, sehingga tentu yang ditayangkan dapat mempengaruhi pola pikir masyarakat, baik pelajar, profesional, bahkan para ibu rumah tangga yang menyaksikan tayangan ini. Menurut Ketua Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Herlina Agustin, Sabtu (11/10), program ”KPK” dikhawatirkan berujung pada tayangan menghakimi seseorang, sehingga penting bagi program ini untuk mampu mengkomunikasikan pesan yang tepat melalui media massa (TV) bagi publik. (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara.korup si.di.layar.kaca).

1.2 Identifikasi Masalah

Program ”KPK” menampilkan peristiwa korupsi mulai dari proses awal penyuapan, seperti hasil sadap telepon KPK terhadap para koruptor, sampai pada proses pengadilannya. Beberapa hal perlu disimak pada tayangan program ini, dalam hubungannya dengan persepsi publik. Pertama, tayangan yang dihasilkan didapat baik dari hasil peliputan wartawan di ruang pengadilan, kantor KPK, di lokasi kejadian, maupun berdasarkan adegan reka ulang yang diperankan oleh model (http://cetak. kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara.korupsi.di.layar.kaca). M. Rizky Arafat, Minggu (12/10), selaku produser program ”KPK” mengatakan, reka ulang dilakukan, adalah berdasarkan pengakuan saksi-saksi, keterangan otoritas, dan fakta pengadilan (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara.korupsi.di. layar.kaca). Adegan reka ulang dimaksudkan hanya apabila mereka tidak memiliki gambar hasil peliputan untuk mengisi bagian cerita yang didapat dari keterangan para saksi maupun pelaku.

Kedua, tidak seperti tayangan TV dokumenter tentang korupsi lainnya, tayangan program ”KPK” ini dinilai memfilmkan suatu peristiwa tindak korupsi. Menurut Ecep Suwardani Yasa, Produser Eksekutif Program Investigasi TVOne, Sabtu (11/10), ”Kami tidak memfilmkan kasus korupsi yang sudah terungkap. Kami memaparkan investigasi kami atas kasus korupsi.” Pernyataan senada disampaikan Swasti Astra, Manajer News Magazine MetroTV (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara. korupsi.di.layar.kaca).

Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur dramatis, yang diselipkan dalam beberapa adegan. Misalnya saja pada kasus Jaksa Urip Tri Gunawan, ditayangkan suasana ia meronta-ronta dan meraung saat penangkapannya. Rizky pada Kamis (9/10) malam mengatakan, ”Pengungkapan kasus korupsi sekarang alurnya sudah membentuk cerita yang lengkap. Di situ juga ada ’unsur sinetron’ (unsur dramatis), seperti adegan terdakwa korupsi mengais tersedu-sedu begitu mendengar vonis hakim.” (http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara. korupsi.di.layar.kaca)

Ketiga, program ”KPK” sarat akan penayangan kejadian korupsi yang mengandung unsur adegan model serta peliputan tindakan para pelakunya, maka terdapat unsur asas praduga tak bersalah. Dalam hal ini Rizky kembali menegaskan, ”Sebelum satu kasus yang telah dikemas menjadi satu cerita utuh ditayangkan, terlebih dahulu dilakukan preview dengan menhadirkan konsultan-konsultan hukum kami. Setelah mereka menyatakan tayangan itu aman, barulah kami menayangkannya.” Ia menambahkan bahwa mereka juga mewawancari semua pihak yang terlibat dalam kasus yang akan ditayangkan, termasuk tersangka (http://www.indofamily.net/index.php? Option=com.content&task=view&id=1515& Itemid=39).

Ketiga hal di atas dapat menjadi barometer bagaimana program dokumenter KPK mempengaruhi persepsi publik atas tindakan korupsi yang dilakukan oleh para pelaku korupsi sendiri, mengingat bahwa pengemasan berita ini mengandung bias serta reka ulang yang dibuat berdasarkan interpretasi tertentu.
.

1.3 Fokus Penelitian

Berdasarkan identifikasi masalah mengenai adegan reka ulang, unsur dramatisasi, serta asas praduga tak bersalah, maka fokus penelitian makalah ini akan dibatasi pada format penayangan program ”KPK”, yaitu gaya penyajian konten serta isi berita.

Gaya penyajian konten dapat ditelusuri dari kemasan tayangan yang dapat meliputi grafis, soundbit, logo, adegan reka ulang oleh model, penayangan unsur dramatisasi, dan tempo penyuntingan gambar. Isi berita maksudnya adalah terdapat sifat berita yang faktual dan berimbang atau tidak (berdasarkan asas praduga tak bersalah).
1.4 Perumusan masalah

Bagaimanakah pengaruh program ”KPK” terhadap persepsi publik?

1.5 Tujuan penelitian

Untuk mengetahui pengaruh program ”KPK” terhadap persepsi publik.

BAB II
TEORI

2.1 Komunikasi Massa

2.1.1 Pengertian Komunikasi Massa

“Mass Communication refers to the process by which a complex organization with the aid of one or more machine produces and transmits public messages that are directed at large, heterogeneous and scaterred audiences.” (Dominick, 1983: 19)

(Komunikasi massa mengacu pada suatu proses yang melibatkan suatu organisasi yang kompleks, dengan bantuan satu atau sejumlah mesin memproduksi dan menyalurkan pesan publik yang ditujukan ke audiens yang berjumlah besar, tersebar dan beraneka ragam)

2.1.2 Fungsi Komunikasi Massa (Ardianto dan Erdinaya, 2005: 15-19)

Fungsi komunikasi massa bagi masyarakat terdiri dari:

1. Fungsi Pengawasan (Surveillance)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam bentuk pengawasan peringatan yang menginformasikan tentang ancaman bencana dan pengawasan instrumental yang menyebarkan informasi yang dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.

2. Fungsi Penafsiran (Interpretation)

Media massa tidak hanya memasok data dan fakta, tapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Organisasi atau industri media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau ditayangkan.

3. Fungsi Pertalian (Linkage)

Media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian) bedasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.

4. Fungsi Penyebaran Nilai-nilai (Transmission of Values)

Fungsi ini disebut sosialisasi, dimana individu mengadopsi perilaku dan nilai kelompok. Media mewakili masyarakat dengan model peran yang telah diamati masyarakat dan harapan untuk menirunya.

5. Fungsi Entertainment (hiburan)

Pada kenyataannya, hampir semua media menjalankan fungsi hiburan. Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur tiada lain tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak.

2.1.3 Karakteristik Komunikasi Massa (Ardianto dan Erdinaya: 7-13)

Karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut:

a. Komunikator Terlembagakan

Wright dalam Ardianto dan Erdinaya (2004: 5-6) mengemukakan bahwa komunikator bergerak dalam organisasi yang kompleks. Organisasi yang kompleks itu menyangkut berbagai pihak yang terlibat dalam proses komunikasi massa, mulai dari menyusun pesan sampai pesan diterima oleh komunikan. Pesan yang disampaikan melalui media televisi, pihak-pihak yang terlibat berjumlah banyak, seperti cameraman, floor man, lighting man, pengarah acara, sutradara operator, dan petugas audio.

b. Pesan Bersifat Umum

Komunikasi massa itu bersifat terbuka artinya komunikasi massa itu ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok orang tertentu. Oleh karena itu, pesan komunikasi massa bersifat umum. Pesan komunikasi massa dapat berupa peristiwa atau opini. Pesan komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk apapun harus memenuhi kriteria penting atau menarik, atau pentingg sekaligus menarik, bagi sebagian besar komunikan.

c. Komunikannya Anonim dan Heterogen

Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim) karena komunikasinya menggunakan media dan tidak tatap muka. Komunikasi massa bersifat heterogen artinya terdii dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda, yang dapat dikelompokkan berdasarkan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, latar belakang budaya, agama, dan tingkat ekonomi.

d. Media Massa Menimbulkan Keserempakan

Kelebihan media massa dibandingkan komunikasi lainnya adalah jumlah sasaran khalayak atau komunikan yang dicapainya relatif banyak dan tidak terbatas.Bahkan lebih dari itu, komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula Effendy, seperti dikutip Komala dalam Karlinah, dalam Ardianto dan Erdinaya (2004: 10) mengartikan keserempakan media massa itu ialah keserempakan kontak dengan sejumlah besar penduduk dalam jarak yang jauh dari komunikator, dan penduduk tersebut satu sama lainnya berada dalam keadaan terpisah.

e. Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan

Pada komunikasi massa yang penting adalah unsur isi. Pesan harus disusun sedemikian rupa berdasarkan sistem tertentu dan disesuaikan dengan karakteristik media massa yang akan digunakan.

f. Komunikasi Massa Bersifat Satu Arah

Menurut Rakhmat, seperti disitir Komala dalam Karlinah, dalam Ardianto dan Erdinaya (2004: 11-12), mengendalikan arus informasi berarti mengatur jalannya pembicaraan yang disampaikan dan yang diterima. Pada komunikasi massa, tidak terjadi pengendalian arus informasi.

g. Stimulasi Alat Indera Terbatas

Dalam komunikasi massa, stimulasi alat indera bergantung pada jenis media massa. Pada media televisi dan film, kita menggunakan indera penglihatan dan pendengaran.

h. Umpan Balik Tertunda (delayed)

Umpan balik (feedback) merupakan faktor penting dalam bentuk komunikasi apapun. Efektivitas komunikasi seringkali dapat dilihat dari feedback yang disampaikan oleh komunikan. Umpan balik pada komunikasi antarpersonal bersifat langsung.

2.1.4 Peranan Komunikasi Massa (Ardianto dan Erdinaya (2004: 14))

Dominick dalam Ardianto dan Erdinaya (2004: 14) mengatakan bahwa dalam melihat fungsi dan kegunaan komunikasi massa, perlu dilakukan dua bentuk analisi, yakni analisis makro (wide-angle lens) dan analisis mikro (close-up lens), kadangkala hasilnya memiliki kesamaan pada khalayak dalam menyerap informasi yang disampaikan media massa. Tetapi tidak berarti khalayak memiliki kesamaan dalam menggunakan media masa.

Gamble dan Gamble dalam Ardianto dan Erdinaya (2004: 14) mengatakan, sejak lahir sampai menuinggal, semua bentuk komunikasi memainkan peranan dan menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan manusia. Apa pun pekerjaan, kegiatan, atau waktu luang seseorang, komunikasi merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan dalam kehidupan mereka.

2.1.5 Efek Komunikasi Massa (Ardianto dan Erdinaya (2004: 49-57)

Efek media massa dapat dilihat dari pendekatan berikut ini:

1. Efek Kehadiran Media Mass

• Efek Ekonomi
• Efek Sosial
• Penjadwalan Kegiatan Sehari-hari
• Efek Hilangnya Perasaan Tidak Nyaman
• Efek Menumbuhkan Perasaan Tertentu

2. Efek Pesan

• Efek Kognitif
o Efek Prososial Kognitif

• Efek Afektif

o Suasana Emosional
o Skema Kognitif
o Suasana Terpaan (Setting of Exposure)
o Predisposisi Individual
o Faktor Identifikasi

• Efek Behavioral

2.2 MEDIA TELEVISI

2.2.1 Pengertian Media (Ardianto dan Erdinaya (2004: 39)

Media yang dimaksud dalam proses komunikasi massa yaitu media massa yang memiliki ciri khas, mempunyai kemampuan untuk memikat perhatian khalayak secara serempak (simultaneous) dan serentak (instantaneous). Para sarjan asepakat bahwa jenis-jenis media yang digolongkan dalam media massa adalah pers, radio siaran, televisi, dan film.

Media massa inilah yang paling sering menimbulkan masalah dalam semua bidang kehidupan, yang semakin lama semakin kompleks karena perkembangan teknologi, sehingga senantiasa memerlukan pengkajian yang seksama. Sifat media yang akan digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan komunikasi massa harus benar-benar mendapat perhatian, karena erat sekali dengan khalayak yang akan diterpa.

2.2.2 Pengertian Media Massa (Effendy, 1989 : 217)

”Media komunikasi yang mampu menimbulka keserampakan, dalam arti kata khalayak dalam jumlah yang relative banyak secara besama-sama pada saat yang sama memperhatikan pesan yang dikomunikasikan melalui media tersebut, misalnya surat kabar, radio siaran, TV siaran, dan film teatrikal yang ditayangkan di gedung bioskop.”

2.2.3 Dampak Sosial Media Massa (Ardianto dan Erdinaya (2004: 57-58)

Media massa secara pasti memenaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Agee dalam Ardianto dan Erdinaya (2004) mengatakan, budaya, sosial, dan politik dipengaruhi oleh media.

Media membentuk opini publik untuk membawanya pada perubahan yang signifikan.Dominick dalam Ardianto dan Erdinaya (2004) menyebutkan tentang dampak komunikasi massa pada pengetahuan, persepsi, dan sikap orang-orang. Media massa terutama televisi, yang menjdi agen sosialisasi (penyebaran nlai-nilai) memainkan peranan penting dalam transmisi sikap, persepsi, da kepercayaan.

2.2.4 Media Televisi (Ardianto dan Erdinaya (2004: 40, 125-140)

Media ini merupakan media yang dapat mendominasi komunikasi massa, karena sifatnya yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan khalayak. Televisi mempunyai kelebihan dari media massa lainnya yaitu bersifat audio visual (didengar dan dilihat), dapat menggambarkan kenyataan dan langsung dapat menyajikan peristiwa yang sedang terjadi ke setiap rumah para pemirsa di manapun mereka berada.

2.2.4.1 Film Dokumenter

Film dokumenter (documentary film) didefinisikan oleh Robert Flahtery dalam Ardianto dan Erdinaya (2004) sebagai ”karya ciptaan mengenai kenyataan (creative treatment of actuality).”
Berbeda dengan film berita yang merupakan rekaman kenyataan, maka fil dokumenter merupakan hasil interpretasi pribadi (pembuatnya) mengenai kenyataan tersebut. Misalnya, seorang sutradara ingin membuat film dokumenter mengenai para pembatik sehari-hari dan sedikit merekayasanya agar dapat menghasilkan kualitas film cerita dengan gambar yang baik.

2.3 Persepsi

Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa atau hubungan-hubungan antargejala yang selanjutnya diproses oleh otak.
Persepsi adalah proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi, dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal. Dengan kata lain persepsi adalah cara kita mengubah energi fisik kita menjadi pengalaman bermakna.(Mulyana & Rakhmat, 2001: 25).
Desiderato (1976) mengatakan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan. Persepsi adalah memberikan makna pada stimuli inderawi. Hubungan sensasi dengan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi, dan memori. (Rakhmat, 2004:51)

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi:

• Perhatian: adalah proses mental ketika stimuli menjadi menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli lainnya melemah.
• Faktor fungsional: berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu, dan hal-hal pribadi.
• Faktor struktural: berasal dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkan pada saraf individu.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan mengumpulkan data dalam setting alamiah, yang akan digunakan untuk menyusun teori melalui analisis data secara induktif. Tujuan riset kualitatif adalah menjelaskan fenomena secara mendalam melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya (Krisyantono,2006:58).
Metode yang digunakan adalah metode deskrptif. Deskriptif artinya melukiskan variabel demi variabel. Metode deskriptif ini digunakan untuk memberi gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap objek yang diteliti. (Kountur 2005:15)

Menurut Kountur (2003), metode deskriptif memiliki ciri-ciri:
1. Berhubungan dengan keadaan yang terjadi saat itu.
2. Menguraikan satu variabel saja atau beberapa variabel namun diuraikan satu per satu.
3. Variabel yang diteliti tidak dimanipulasi atau tidak ada perlakuan.

Tujuan penelitian deskriptif adalah:
1. Mengumpulkan informasi aktual secara terperinci yang melukiskan gejala-gejala yang ada.
2. Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.
3. Membuat perbandingan atau evaluasi.
4. Menentukan apa yang sebaiknya dilakukan dalam menghadapi masalah tersebut, dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.
3.2 Narasumber

Narasumber yang dipilih dalam penelitian ini adalah:

1. Produser program TransTV KPK, M. Rizky Arafat.
Produser program TransTV KPK mampu menjelaskan informasi mengenai latar belakang serta proses pembuatan program KPK, selain itu merupakan penanggung jawab dari program tersebut.

2. Reporter program TransTV KPK.
Reporter program TransTV KPK adalah orang yang bertugas mencari informasi dan meliput gambar-gambar yang ditayangkan pada program KPK.

3. Produser Eksekutif Program Investigasi TransTV
Memiliki kewenangan untuk mengkonfirmasikan jenis tayangan investigasi di TransTV, termasuk program KPK.

4. Ketua Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Herlina Agustin.
Memberikan informasi mengenai peran dan dampak penayangan program di suatu media massa serta implikasinya pada program TransTV KPK.

5. Ketua Komnas HAM
Memberikan klarifikasi mengenai ada tidaknya unsur pengambilan hak seseorang dalam hal hak asas praduga tak bersalah dalam proses pengadilan.

6. Keluarga terpidana kasus korupsi Jaksa Urip
Sebagai pihak yang salah satu anggotanya menjadi sumber pemberitaan di program KPK, memberikan opini mengenai penayangan program.

7. Masyarakat (pelajar, profesional, ibu rumah tangga)
Sebagai pemirsa televisi dan merupakan target audience program KPK, memberikan opini mengenai penayangan program.

Narasumber di atas dipilih berdasarkan teknik purposif, yaitu pemilihan narasumber karena pemahamannya akan permasalahan yang diangkat. Narasumber tersebut juga memenuhi kriteria sebagai seorang narasumber yaitu menguasai atau memahami permasalahan yang diteliti, sekaligus masih berkecimpung atau terlibat pada permasalahan yang diteliti.

3.3 Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan dua tipe pengumpulan data yaitu:

1. Data primer

Data primer merupakan data yang diperoleh dengan melakukan observasi maupun wawancara langsung dengan narasumber, bersifat aktual walaupun untuk memperolehnya membutuhkan waktu yang cukup lama.

Penelitian ini menggunakan jenis observasi keterlibatan pasif. Ciri-ciri observasi keterlibatan pasif:

• Peneliti tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para pelaku yang diamatinya.
• Tidak melakukan sesuatu bentuk interaksi sosial denga pelaku atau para pelaku yang diamati.
• Keterlibatannya dengan para pelaku terwujud dalam bentuk keberadaannya dalam arena kegiatan yang diwujudkan oleh tindakan-tindakan pelakunya.

Observasi dilakukan dengan ikut mangamati reaksi penonton program KPK, kemudian mengamati tayangan program KPK.
Sementara wawancara yang dilakukan adalah wawancara mendalam, yakni “suatu cara mengumpulkan informasi melalui tatap muka langsung dengan informan agar mendapatkan data lengkap dan mendalam.”(Kriyantono, 2006:98).
Wawancara mendalam berfungsi untuk memberikan informasi lanjutan dari hasil observasi. Wawancara dilakukan terhadap narasumber-narasumber yang telah disebut di atas.

2. Data sekunder

Data sekunder adalah data yang didasarkan penelitian sebelumnya atau dari laporan-laporan lembaga yang menerbitkan informasi atau data yang dibutuhkan (Suparmoko, 1999:64).

Data sekunder diperoleh melalui:

• Studi kepustakaan, dengan membaca buku-buku referensi serta skripsi.
• Internet

3,4 Metode Analisis Data

Program KPK mempengaruhi persepsi publik atau tidak.

REABILITAS ACARA
+
-Penayangan hasil peliputan peristiwa korupsi lengkap
Indikator:
o Mulai dari dugaan, pelaporan, penangkapan, persidangan, sampai putusan pengadilan.
o Adegan suap lewat telepon

-Sumber tayangan dipertanggungjawabkan
Indikator:
o Pengakuan saksi-saksi
o Keterangan otoritas
o Fakta pengadilan
o Preview dengan konsultan hukum sebelum penayangan program

-Isi berita berimbang
Indikator:
o Hak jawab koruptor ditampilkan dalam bentuk wawancara

-
-Unsur dramatis
Indikator:
o Koruptor menangis meraung-raung saat mendengar putusan pengadilan
o Teriakan sang koruptor saat ditangkap petugas KPK

-Adegan reka ulang
Indikator:
o Menggunakan jasa model untuk memeragakan peristiwa yang tidak sempat diliput

-Memfilmkan kasus korupsi yang sudah terungkap
Indikator:
o Adegan reka ulang
o Tidak ada unsur investigasi
o Model
o Unsur ’sinetron’

PENGARUH
+
-Menginformasikan peristiwa korupsi
Indikator:
o Materi catatan editor program KPK mengenai seluruh tindakan korupsi di sepanjang tahun
o Tayangan perkembangan kasus korupsi terbaru

-Menciptakan citra bagi lembaga KPK
Indikator:
o Adegan petugas KPK menangkap koruptor
o Nama program dibuat sama dengan lembaga KPK
o Wawancara dengan Ketua KPK Antasari Azhar -
-Memunculkan bias
Indikator:
o Tayangan kasus korupsi yang masih belum mendapat putusan pengadilan

-Mempengaruhi pola pikir
Indikator:
o Suara narator yang tegas, ofensif
o Liputan proses korupsi sang koruptor
o Proses pengadilan
o Durasi satu jam dengan maksimal tiga profil koruptor

-Menciptakan citra bagi calon maupun terpidana
Indikator:
o Wajah sang koruptor terlihat jelas
o Nama asli koruptor disebutkan

-Asas praduga tak bersalah
Indikator:
o Profil perkembangan kasus korupsi calon terpidana ditayangkan sebelum ada putusan pengadilan

3.5 Teknik Pengujian

• Validitas
o Validitas Eksternal
Instrumen yang dicapai bila data yang dicapai sesuai dengan data atu informasi lain mengenai cariabel penelitian yang dimaksud.

o Validitas Internal
Bila terdapat kesesuaian antara bagian-bagian instrumen dengan instrumen secara keseluruhan

• Reliabilitas
Reabilitas pada dasarnya adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya.

• Objektivitas
Merupakan hasil pengukuran paling banyak dalam penelitian.

Dalam penelitian ini, teknik pengujian dilakukan dengan cara:

1. Analisis kasus negatif
Merupakan proses analisa dengan menguji kebalikan dari hasil laporan penelitian. Misal hasil penelitian berupa hal positif, maka kemudian diumpamakan hasil tersebut bersifat negatif, demikian sebaliknya.

2. Triangulasi
Membandingkan laporan penelitian yang dibuat dengan wawancara dan observasi lebih dari satu narasumber.

3.6 Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini akan berlangsung selama dua bulan, mulai 1 Januari hingga 28 Februari 2008, bertempat di Studio TransTV, Jl. Kapten P. Tendean Kav 8, Jakarta Selatan; serta di pengadilan tipikor, rumah penduduk penonton tayangan KPK, dan tempat pengambilan tayangan reka ulang program.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Ardianto, Elvinaro dan Lutiaki Komala Erdinaya . (2004) . Komunikasi Massa Suatu Pengantar . Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset

Sumber Lain:

http://search.yahoo.com/ search?p=KPK&fr=yfp-t501&toggle=1&cop=mss& ei =UTF-8&fp_ip=ID&vc=

http://www.indofamily.net/index.php?option=com_content&task=view&id=1515&Itemid=39

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/12/0213564/perkara.korup si.di.layar.kaca.

Skripsi

Tumiwa, Anthony James . (2008) . Strategi Promosi Mobil Produk Jepang melalui Media Televisi (studi deskriptif pada program O-Blitz di MetroTV terhadap mobil produk NISSAN di Indonesia) . Jakarta: The London School of Public Relation

One response »

  1. fransiskasusanto

    Hai Fahdi, sorry I just read your comment now!! haha..
    Yea thats qualitative research. Actually I already forgot about that because it was my task during my college.
    So what do you do now Fahdi? doing thesis or what?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: