RSS Feed

COMMUNICATION THEORY

Komunikasi Organisasi dan Motivasi

A. DEFINISI ORGANISASI

Organisasi merupakan penyusunan dan pengelompokkan kegiatan dan orang-orang yang melakukan kegiatan tersebut, dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.

Unsur-unsur dasar yang membentuk suatu organisasi dapat dibagi menjadi lima kategori besar, yaitu:

Ä Anggota organisasi

Di pusat organisasi terdapat orang-orang yang melaksanakan kegiatan organisasi, dan mereka terlibat dalam beberapa kegiatan primer, yaitu:

§ Kegiatan pemikiran, meliputi konsep-konsep, penggunaan bahasa, pemecahan masalah, dan pembentukan gagasan.

§ Kegiatan perasaan, meliputi emosi, keinginan, dan aspek-aspek perilaku manusia lainnya yang bukan aspek intelektual.

§ Kegiatan self moving, mencakup kegiatan fisik yang besar maupun terbatas.

§ Kegiatan elektrokimia, mencakup brain synaps (daerah kontak otak tempat impuls saraf ditransmisikan hanya ke satu arah), kegiatan jantung, dan proses-proses metabolisme.

Ä Pekerjaan dalam organisasi

Pekerjaan yang dilakukan terdiri dari tugas-tugas formal dan informal. Pekerjaan ini ditandai oleh tiga dimensi universal:

§ Isi terdiri dari apa yang dilakukan anggota organisasi, berhubungan dengan bahan, orang-orang, dan tugas lainnya dengan mempertimbangkan metode serta teknik yang digunakan, mesin-mesin, perkakas, peralatan yang dipakai, bahan, barang-barang, informasi, dan pelayanan yang diciptakan.

§ Keperluan berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dianggap sesuai bagi seseorang agar mampu melaksanakan pekerjaan tersebut, meliputi pendidikan, pengalaman, lisensi, dan sifat-sifat pribadi.

§ Konteks berkaitan dengan kebutuhan fisik dan kondisi lokasi pekerjaan, jenis tanggung jawab dalam kaitannya dengan pekerjaan, jumlah pengawasan yang diperlukan, dan lingkungan umum tempat pekerjaan dilaksanakan.

Ä Praktik-praktik pengelolaan

Tugas primer pegawai manajerial adalah menyelesaikan pekerjaan melalui usaha orang lainnya. Manajer membuat keputusan mengenai bagaimana bawahan mereka menggunakan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan mereka. Sebagian manajer membawahi para pekerja yang beroperasi dan sebagian lainnya membawahi manajer-manajer lainnya.

Ä Struktur organisasi

Struktur organisasi merujuk kepada hubungan-hubungan antara “tugas-tugas yang dilaksanakan oleh anggota-anggota organisasi” (Tosi, Rizzo, dan Carol, 1990, hlm.39). Struktur organisasi ditentukan oleh tiga variabel: kompleksitas, formalisasi, dan sentralisasi.

Ä Pedoman organisasi

Pedoman organisasi adalah serangkaian pernyataan yang mempengaruhi, mengendalikan, dan memberi arahan bagi anggota organisasi dalam mengambil keputusan dan tindakan.

B. TEORI-TEORI MOTIVASI

1. Teori Defisiensi Motivasi

Teori-teori mengenai motivasi umumnya merujuk pada kebutuhan sebagai kekuatan pendorong perilaku manusia. Penjelasan mengenai bagamana kebutuhan berfungsi memotivasi manusia:

a) Teori Hirearki

Maslow (1943, 1954) membagi kebutuhan kita menjadi lima kategori yang tersusun dalam suatu tatanan hirearkis, dengan urutan paling bawah ke paling atas:

Ä Kebutuhan fisiologis

Ä Keselamatan dan keamanan

Ä Kebutuhan akan rasa memiliki (belonging)

Ä Penghargaan (esteem)

Ä Aktualisasi diri

Ketika seorang pegawai sudah memenuhi kebutuhan tubuhnya, maka ia akan termotivasi untuk memenuhi kebutuhan untuk rasa aman. Begitu pula selanjutnya, ia akan selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan di tingkat-tingkat selanjutnya bila kebutuhan tingkat bawahnya telah terpenuhi.

b) Teori ERG

Aldeferer (1972) mengemukakan 3 kategori kebutuhan, yaitu:

Ä Existence (E) atau eksistensi, yaitu meliputi kebutuhan fisiologis seperti rasa lapar, rasa haus, seks, juga kebutuhan materi seperti gaji dan lingkungan kerja yang menyenangkan.

Ä Relatedness (R) atau keterkaitan, yaitu menyangkut hubungan dengan orang-orang yang penting bagi kita, seperti anggota keluarga, sahabat, dan penyelia di tempat kerja.

Ä Growth (G) atau pertumbuhan, yaitu meliputi keinginan kita untuk produktif dan kreatif dengan mengerahkan segenap kesanggupan kita.

Perbedaan konsep ERG dengan konsep Maslow berbeda dalam dua aspek. Pertama, ide hirearki tidak dimasukkan. Bila kebutuhan akan eksistensi tidak terpenuhi, kategori-kategori kebutuhan lainnya masih penting dalam mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan. Kedua, meskipun suatu kebutuhan terpenuhi, kebutuhan tersebut dapat berlangsung terus sebagai pengaruh kuat dalam keputusan.

c) Teori Kesehatan-Motivator

Heinzberg (1966) menemukan 2 faktor yang mempengaruhi motivasi dalam organisasi:

Ä Kebutuhan yang berkaitan dengan kepuasan kerja (motivator).

Faktor-faktornya meliputi prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan atau promosi, pekerjaan itu sendiri, dan potensi bagi pertumbuhan pribadi. Bila faktor-faktor ini ditanggapi secara positif, pegawai cenderung merasa puas dan termotivasi. Bila tidak ada, pegawai akan kekurangan motivasi, namun tidak berarti merasa tidak puas dengan pekerjaan mereka.

Ä Kebutuhan yang berkaitan dengan ketidakpuasan kerja.

Faktor-faktornya disebut faktor pemeliharaan (maintenance) atau kesehatan (hygiene), dan meliputi gaji, pengawasan, keamanan kerja, kondisi kerja, administrasi, kebijakan organisasi, dan hubungan antarpribadi dengan rekan kerja, atasan, dan bawahan di tempat kerja. Faktor-faktor ini berkaitan dengan lingkungan atau konteks, bukan dengan pekerjaan itu sendiri. Bila faktor-faktor ini ditanggapi secara positif, pegawai tidak akan merasa puas atau termotivasi. Namun bila tidak ada, pegawai akan merasa tidak puas.

Ketiga teori tersebut dapat saling berhubungan.

§ Faktor pemeliharaan dan kesehatan dapat memuaskan kebutuhan pada tingkat fisiologis, dan keamanan juga untuk memuaskan kebutuhan eksistensi

§ Hubungan antarpribadi dan pengawasan dianggap dapat memenuhi keterkaitan, kebutuhan rasa memiliki, dan kebutuhan penghargaan.

2. Teori Harapan dan Motivasi

Teori harapan

Vroom (1964) mengembangkan sebuah teori motivasi bedasarkan jenis-jenis pilihan yang dibuat orang untuk mencapai suatu tujuan, bukan pada kebutuhan internal. Teori harapan (expectancy theory) memiliki 3 pokok:

a. Setiap individu percaya bahwa bila ia berperilaku dengan cara tertentu, ia akan memperoleh hasil tertentu. Ini disebut sebuah harapan hasil (outcome expectancy).

Harapan hasil dapat didefinisikan sebagai penilaian subjektif seseorang atas kemungkinan bahwa suatu hasil tertentu akan muncul dari tindakan orang tersebut.

b. Setiap hasil mempunyai nilai, atau daya tarik bagi orang tertentu. Ini disebut valensi (valence).

Valensi dapat didefinisikan sebagai nilai yang orang berikan kepada suatu hasil yang diharapkan.

c. Setiap hasil berkaitan dengan suatu persepsi mengenai seberapa sulit mencapai hasil tersebut. Ini disebut harapan usaha (effort expectance).

Harapan usaha dapat didefinisikan sebagai kemungkinan bahwa usaha seseorang akan menhasilkan pencapaian suatu tujuan tertentu.

Dengan menggabungkan ketiga prisip tersebut, dapat disimpulkan bahwa orang akan termotivasi bila ia percaya bahwa:

§ Suatu perilaku tertentu akan menghasilkan hasil tertentu

§ Hasil tersebut mempunyai nilai positif baginya

§ Hasil tersebut dapat dicapai dengan usaha yang dilakukan seseorang

Nadler dan Lawler (1976) menyarankan beberapa cara untuk para manajer dan organisasi untuk memperoleh motivasi dari pegawainya:

a. Pastikan jenis hasil atau ganjaran yang mempunyai nilai bagi pegawai.

Lebih mudah untuk menemukan apa yang diinginkan orang daripada mengubah keinginan mereka

b. Definisikan secara cermat, dalam bentuk perilaku yang dapat diamati dan diukur, apa yang diinginkan dari pegawai.

c. Pastikan bahwa hasil tersebut dapat dicapai oleh pegawai.

Bila seseorang merasa bahwa tingkat kinerja yang diharapkan lebih tinggi daripada yang dapat ia lakukan, maka motivasinya akan lebih rendah.

d. Kaitkan hasil yang diinginkan dengan tingkat kinerja yang diiginkan.

Motivasi hanya akan terjadi bila seorang pegawai melihat hubungan antara ganjaran dan harapan.

e. Orang berkinerja tinggi harus menerima lebih banyak ganjaran yang diinginkan daripada orang yang berkinerja rendah.

Temukan sebuah sistem ganjaran yang adil, bukan sama rata.

3. Teori Persepsi tentang Motivasi

Kebanyakan pegawai menunjukkan vitalitas (kemampuan untuk bertahan) dalam pekerjan mereka. Vitalitas kerja didasarkan pada 4 asumsi utama:

a. Seberapa jauh harapan pegawai dipenuhi oleh organisasi

b. Apa yang dipikirkan pegawai mengenai peluang mereka dalam organisasi.

c. Bagaimana pendapat pegawai mengenai seberapa banyak pemenuhan yang diperoleh dari pekerjaan dalam berorganisasi.

d. Bagaimana persepsi pegawai mengenai kinerja mereka dalam organisasi.

Organisasi Iklim

A. DEFINISI IKLIM KOMUNIKASI

Iklim komunikasi merupakan gabungan dari persepsi-persepsi, suatu valuasi makro, mengenai peristiwa komunikasi, perilaku manusia, respons pegawai terhadap pegawai lainnya, harapan-harapan, konflik-konflik antarpesona, dan kesempatan bagi pertumbuhan dalam organisasi tersebut.

Iklim komunikasi sebuah organisasi mempengaruhi cara hidup kita: kepada siapa kita bicara, siapa yang kita sukai, bagaimana perkembangan kita, dan bagaimana cara kita menyesuaikan diri dengan organisasi. Redding (1972) menyatakan bahwa “iklim (komunikasi) organisasi jauh lebih penting daripada keterampilan atau teknik-teknik komunikasi semata-mata dalam menciptakan suatu organisasi yang efektif”.

Iklim komunikasi penting karena mengaitkan konteks organisasi dengan konsep-konsep, perasaan-perasaan, dan harapan-harapan anggota organisasi dan membantu menjelaskan perilaku anggota organisasi. Di samping itu, dapat memahami lebih baik apa yang mendorong anggota organisasi untuk bersikap dengan cara-cara tertentu.

Iklim lebih merupakan sifat budaya daripada merupakan suatu pengganti budaya. Kopelmen, Brief, Guzzo (1989) cenderung setuju dengan pandangan mengenai hubungan antara iklim dan buaya tersebut ketika mereka menyatakan bahwa “budaya organisasi…menyediakan konteks tempat iklim organisasi menetap”. Jadi, suatu pemahaman mengenai iklim komunikasi suatu organiasi dapat berbicara banyak kepada kita mengenai budaya organisasi tersebut. Iklim organisasi, yang meliputi iklim komunikasi, penting karena menjembatani praktik-praktik pengelolaan sumber daya manusia dengan produktivitas.

B. ANALISIS IKLIM

Proses pengukuran iklim komunikasi organisasi meliputi penelitian atas persepsi anggota organisasi mengenai pengaruh komunikasi.

Enam faktor yang mempengaruhi iklim komunikasi organisasi:

  1. Kepercayaan

Personel di semua tingkat harus berusaha keras untuk mengembangkan dan mempertahankan hubungan yang di dalamnya kepercayaan, keyakinan, dan kredibilitas didukung oleh pernyataan dan tindakan.

  1. Pembuatan keputusan bersama

Para pegawai di semua tingkat dalam organisasi harus diajak berkomunikasi dan berkonsultasi mengenai semua masalah dalam semua wilayah kebijakan organisasi, yang relevan dengan kedudukan mereka. Para pegawai di semua tingkat harus diberi kesempatan berkomunikasi dan berkonsultasi dengan manajamen di atas mereka agar berperan serta dalam proses pembuatan keputusan dan penentuan tujuan.

  1. Kejujuran

Suasana umum yang diliputi kejujuran dean keterusterangan harus mewarnai hubungan-hubungan dalam organisasi, dan para pegawai mampu mengatakan “apa yang ada dalam pikiran mereka” tanpa mengindahkan apakah mereka berbicara kepada teman sejawat, bawahan, atau atasan.

  1. Keterbukaan dalam komunikasi ke bawah

Kecuali untuk keperluan informasi rahasia, anggota organisasi harus relatif mudah memperoleh informasi yng berhubungan langsung dengan tugas mereka saat itu, yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk mengkoordinasikan pekerjaan mereka dengan orang atau bagian lainnya, dan yang berhubungan luas dengan perusahaan, organisasi, pemimpin, dan rencana-rencana.

  1. Mendengarkan dalam komunikasi ke atas

Personel di setiap tingkat dalam organisasi harus mendengarkan saran atau laporan masalah yang dikemukakan personel di setiap tingkat bawahan dalam organisasi, secara berkesinambungan dan dengan pikiran terbuka. Informasi dari bawahan harus dipandang cukup penting untuk dilaksanakan kecuali ada petunjuk yang berlawanan.

  1. Perhatian pada tujuan-tujuan berkinerja tinggi

Personel di semua tingkat dalam organisasi harus menunjukkan suatu komitmen terhadap tujuan-tujuan berkinerja tinggi, produktivitas tinggi, kualitas tinggi, biaya rendah, demikian pula menunjukkan perhatian besar pada anggota organisasi lainnya.

Inventaris Iklim Komunikasi

Peterson dan Pacer (1976) mengembangkan Inventaris Iklim Komunikasi (IIK) yang khusus dirancang untunk mengukur enam “pengaruh komunikasi “. IIK telah digunakan dalam kegiatan konsultasi organisasi, juga dalam bidang-bidang pembuatan senjata, pengeceran, pemerintahan negara, perkumpulan para ahli, perguruan tinggi, agen federal, konsultasi, pergudangan, teknik, jaringan computer, dan perbankan. Hasilnya positif secara merata, memberikan respons yang positif dan konsisten atas keabsahannya.

Penilaian dan analisis dalam IIK:

  1. Nilai iklim komposit.
  2. Nilai iklim kepercayaan.
  3. Nilai pengambilan keputusan partisipatif.
  4. Nilai iklim kejujuran.
  5. Nilai keterbukaan dalam komunikasi ke bawah.
  6. Nilai mendengarkan dan komunikasi ke atas.
  7. Nilai perhatian untuk tujuan berkinerja tinggi.

Stress dan Konflik dalam Organisasi

A. STRES

Stres dapat didefiisikan sebagai penderitaan jasmani, mental, atau emosional yang diakibatkan interpretasi atau suatu peristiwa sebagai suatu ancaman bagi agenda pribadi seorang individu.

Definisi ini dapat diterjemahkan ke dalam suatu model perkembangan dan pelepasan stres yang berdasarkan premis bahwa interpretasi atas suatu peristiwa (event) adalah apa yang menimbulkan baik konsekuensi positif ataupun konsekuensi negatif.

KONSEKUENSI NEGATIF

INTERPRETASI

PERISTIWA

A B C

Suatu kejadian nyata Suatu evaluasi mental atas Penderitaan jasmani,

atau dibayangkan suatu peristiwa dalam arti mental atau emosional

bagaimana hal itu mengancam

suatu aspek agenda pribadi

seorang individu

Diagram Urutan Tindakan yang Menimbulkan Suatu Reaksi Stres

Suatu peristiwa adalah kejadian yang nyata atau dibayangkan dalam kehidupan seseorang. Dalam model ini, konsep peristiwa merujuk kepada hampir segala sesuatu yang terjadi pada seseorang. Sebagian peristiwa yang tampaknya menimbulkan interpretasi negatif yang menjelma menjadi reaksi yang menyakitkan termasuk kematian seorang kerabat dekat atau suami/ istri, perceraian, kecelakaan atau penyakit pribadi, pemecatan dari pekerjaan, perselisihan dalam perkawinan, konflik dengan atasan, penangkapan karena pelanggaran ringan terhadap hukum, dan perubahan dalam tempat tinggal, jam kerja, kebiasaan tidur, tanggung jawab kerja, dan kondisi hidup. Setiap peristiwa, terutama yang mendorong respons negatif, cenderung menimbulkan ancaman kepada agenda pribadi individu.

Suatu agenda pribadi terdiri dari kegiatan-kegiatan atau tindakan-tindakan yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuan hidup yang penting. Seberapa dekat kita kepada pencapaian tujuan ini menjadi ukuran kualitas hidup kita. Bila tujuan tersebut tetap di luar jangkauan kita, kita menjadi jengkel, namun bila setidaknya sebagian dari tujuan-tujuan ini tercapai, kita mengalami kebahagiaan dan kepuasan. Bagi kebanyakan orang, peristiwa yang kita anggap menimbulkan reaksi negatif adalah peristiwa yang mengancam seberapa baik atau sejauh mana kita mampu mencapai sebagian tujuan kita. Misalnya, kehilangan pekerjaan dapat menimbulkan stres yang demikian hebat. Bila kehilangan sumber penghasilan, kita berpikir bahwa banyak tujuan atau agenda kita terancam. Perubahan dalam status finansial dapat menimbulkan stres bila hal itu tampaknya mengancam pencapaian satu atau lebih tujuan kita.

Menurut Rosch (1984), respons terhadap stres pada manusia sangat terpersonalisasikan dan bervariasi bagi setiap orang bahkan pada seorang individu pada saat-saat yang berbeda.

Apakah suatu peristiwa menimbulkan suatu respons stres bergantung pada bagaimana peristiwa tersebut diinterpretasikan. Menginterpretasikan suatu peristiwa berarti bahwa kita memberi makna dan mampu menjelaskan apa makna peristiwa itu bagi diri kita sendiri.

Suatu konsekuensi negatif terdiri dari suatu penderitaan jasmani atau emosional. Lima kategori konsekuensi negatif telah diidentifikasi :

  1. Jasmani

Konsekuensi negatif bagi jasmani meliputi berbagai perubahan jasmani dan penyakit seperti sulit tidur (insomnia), sakit kepala, eksim, sakit leher dan bahu, kejang otot, borok perut, mens yang tidak teratur, impotensi, asma, penyakit kardiovaskular, hipertensi, rambut rontok secara berlebihan dan kebotakan.

  1. Emosional

Konsekuensi emosional negatif tidak hanya mencakup perubahan kepribadian, kejengkelan, kecemasan, dan depresi, namun juga mimpi buruk, menangis terus-menerus, khawatir, frustasi, mudah marah, dan kepercayaan bahwa tidak ada orang yang mempedulikan.

  1. Mental

Erat kaitannya dengan problem emosional adalah konsekuensi mental negatif seperti mudah lupa, konsentrasi lemah, sikap negatif, kebingungan, kelesuan, kebosanan, bicara dengan diri sendiri, dan ketumpulan panca indera.

  1. Relasional

Konsekuensi relasional negatif meliputi kondisi-kondisi seperti perasaan terasing, intoleransi, kurang intim, dan mengecam orang lain.

  1. Spiritual

Konsekuensi spiritual negatif dialami sebagai suatu kehilangan makna, kehampaan, keraguan, kehilangan pegangan, sinisme, apati, dan tidak mau memaafkan.

Setiap peristiwa yang ditafsirkan sebagai ancaman yang mungkin bagi tujuan atau agenda pribadi seseorang mungkin menghasilkan satu atau lebih konsekuensi negatif yang bersifat jasmani, emosional, mental, relasional, atau spiritual.

B. STRATEGI MENGHINDARI STRES

Dari model stres, kita mampu mengidentifikasi tiga bentuk strategi untuk menghindari stres, yaitu dengan :

  1. Meminimalisasi efek konsekuensi jasmani melalui kelegaan sementara.

Tiga cara yang umum dilkukan oleh orang-orang untuk memberikan kelegaan sementara adalah:

Ä Pelarian

Salah satu cara penyembuhan paling lazim untuk mengatasi stres adalah menjauhkan diri atau lari dari peristiwa yang dianggap menimbulkan stres. Melarikan diri berarti meninggalkan atau menghindari.

Ä Penenangan instan

Suatu cara lain untuk memperoleh kelegaan sementara dari stres adalah melakukan suatu prosedur yang disebut rangakaian penenangan instan (instant calming sequence). Pada tingkat personal, ketika kita mengalami ketegangan dan stres, segeralah menarik napas panjang; jangan menahan napas, namun tetap bernapas dengan normal. Kemudian tersenyum lebar, berdiri tegak, dan lemaskan semua otot.

Ä Gerak badan untuk kesenangan

Cara lain menghilangkan stres dan situasi yang menimbulkannya adalah melakukan latihan jasmani. Latihan ini tidak harus ditujukan untuk memperoleh kondisi badan yang baik. Sebaliknya, ini dirancang untuk membantu kita melupakan efek negatif kehidupan dan pekerjaan. Memperkuat kemampuan orang untuk mengatasi konsekuensi jasmani berdasarkan basis jangka panjang.

  1. Memperkuat kemampuan orang untuk mengatasi konsekuensi jasmani berdasarkan basis jangka-panjang.

Berikut merupakan cara-cara yang dapat ditempuh:

Ä Pemeriksaan kesehatan

Ini berguna untuk memantau tingkat kesehatan kita. Tidak berarti dibutuhkan pemeriksaan badan setiap tahun, tetapi kita perlu memeriksakan aspek-aspek tertentu kesehatan kita setiap tahun. Misalnya, hingga usia 40 tahun, kita perlu mengecek tekanan darah dan berat badan secara teratur . Khusus wanita perlu melakukan pemeriksaan payudara dan bagian pinggul, sedangkan pria dianjurkan untuk memeriksakan bagian selangkang. Saat mencapai usia 40 tahun, pemeriksaan badan secara menyeluruh setiap tahun, mencakup pemeriksaan tekanan darah, glaucoma, dan kadar kolesterol.

Pemeriksaan badan tahunan secara teratur akan memberitahu kita tentang kondisi kesehatan kita dan memberikan peringatan awal mengenai bahaya yang mungkin terjadi.

Ä Nutrisi yang Baik

Nutrisi yang layak memberikan kontribusi bagi kemampuan kita untuk mengatasi stres. Nutrisi yang baik dapat diuraikan berdasarkan 6 prinsip :

1. Kurangilah makan karbohidrat yang telah dihaluskan, terutama gula putih. Kurangilah makan makanan yang mengandung gula, seperti : permen, minuman ringan, es krim, dan kue-kue.

2. Kurangilah mengkonsumsi lemak, termasuk kolesterol. Makanlah daging tidak berlemak, ikan, ayam, biji-bijian yang dikeringkan, dan kacang polong sebagai sumber protein, namun batasi makan telur, hati, mentega, krim, minyak kelapa, dan alpukat.

3. Perbanyak makan karbohidrat kompleks, seperti biji-bijian, buah-buahan mentah, sayur-sayuran, buncis, dan kentang. Makanan berkarbohidrat kompleks mengandung banyak serat, sehingga cenderung mengurangi gejala sembelit kronik dan penyakit perut lainnya.

4. Hindarilah sodium yang terlalu banyak, termasuk garam. Kurangi makan garam dengan belajar menikmati cita rasa makanan yang tak bergaram. Batasi makan makanan yang mengandung garam seperti: keripik kentang, kacang dan berondong jagung, keju, asinan, dan daging yang diawetkan.

5. Minumlah 6 hingga 8 gelas air setiap hari. Ini akan membantu kita mengendalikan jumlah makanan yang kita makan dan membersihkan sistem pencernaan kita.

6. Makanlah ketika kita benar-benar lapar. Lebih baik bila kita makan secara teratur. Rasa lapar terjadi sekitar setiap 4 hingga 6 jam, jadi kita tidak boleh makan lebih sering dari itu.

Ä Gerak badan untuk kekuatan

Gerak badan adalah suatu cara yang baik untuk mengatasi stres. Lewat gerak badan kita akan meningkatkan toleransi tubuh kita atau daya tahan menghadapi situasi yang menimbulkan stres. Keuntungan yang diperoleh dari gerak badan yang teratur adalah peningkatan konsentrasi, berkurangnya resiko terkena serangan jantung, lebih banyak energi dan vitalitas, penampilan fisik yang lebih kuat, tidur yang lebih nyenyak, kendali lebih baik atas berat badan, suasan hati yang lebih baik, dan kecemasan yang berkurang.

Gerak badan cenderung menghasilkan 3 konsekuensi dasar yang positif, yaitu:

1. Daya tahan adalah kemampuan untuk melakukan latihan otot besar yang cukup berat untuk waktu yang relative lama. Contohnya : berjalan, bersepeda, berenang, dan berlari.

2. Fleksibilitas menyangkut berbgai gerakan yang dapat dilakukan tubuh. Contohnya: menyentuh ibu jari kaki, merentangkan anggota badan.

3. Kekuatan mencakup kekuatan otot melawan suatu bentuk resistensi. Contohnya : push up, angkat beban, dan lari jarak jauh.

Latihan terpenting adalah latihan yang mengaktifkan seluruh tubuh kita dan memungkinkan kita bergerak terus menerus untuk waktu yang lama, sehingga meningkatkan daya tahan jantung dan pernapasan. Contohnya : berjalan, berlari, berenang, lompat tali, bersepeda, dan aerobik.

  1. Menginterpretasikan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita sehingga kita dapat menyingkirkan konsekuensi mental, emosional, relasional, dan spiritual yang negatif agar kita dapat hidup panjang dengan damai.

Pengelolaan stres melalui komunikasi menghasilkan kekuatan mental, emosional, relasional, dan spiritual. Suatu pendekatan komunikatif terhadap stres mengidentifikasi 3 aspek komunikatif, dan menunjukkan bahwa interpretasi atas suatu peristiwalah yang menghasilkan baik konsekuensi (stres) yang positif ataupun konsekuensi yang negatif dalam kehidupan seseorang.

C. STRATEGI KOMUNIKATIF

Terdapat lima strategi komunikatif atau interpretatif yang memberi kontribusi terhadap pelepasan dan pengurangan stres:

  1. Perkuat Harapan

Unsur yang paling dasar dari kedamaian, prestasi dan keberhasilan adalah perasaan yang kita sebut harapan. Harapan adalah melihat, mempersepsi dan menginterpretasikan kondisi hidup sedemikian rupa sehingga kita percaya bahwa apa yang ingin kita miliki adalah mungkin untuk kita pegang, miliki atau capai.

Stres terjadi ketika pencapaian suatu agenda pribadi yang benar-benar kita inginkan tampaknya tidak mempunyai harapan. Usaha membuat sesuatu mungkin terwujud merupakan kekuatan nyata seseorang untuk menimbulkan harapan dan mengatasi stres. Kemungkinan terjadinya hal-hal yang kita inginkan didasarkan pada empat syarat dasar:

a. Kita harus mempunyai pikiran jelas mengenai apa sesungguhnya yang kita inginkan. Jadi, kita harus membedakan antara butir agenda yang sebenarnya dan otentik (yang sungguh-sungguh ingin kita capai) dengan agenda yang dibuat-buat (yang membuat kita tidak punya komitmen untuk menggapainya).

b. Kita harus merasa bahwa kita memiliki energi memadai untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Artinya, kita perlu membedakan antara benar-benar tidak memiliki energi untuk mencapai sesuatu dengan hanya berpikir bahwa kita tidak memiliki energi.

c. Kita harus merasa bahwa kita memiliki bakat, keterampilan dan kemampuan untuk memperoleh apa yang kita inginkan. Itu berarti kita harus bisa membedakan antara tidak memiliki atau kekurangan keterampilan dengan sekedar tidak ingin mengembangkan keterampilan yang kita miliki.

d. Kita harus merasa bahwa kita akan mampu mendapatkan apa yang kita inginkan bila kita menggunakan energi dan menerapkan kemampuan kita terhadap tugas. Jadi, kita harus membedakan antara tidak ingin menggunakan energi dengan tidak mampu mencurahkan energi untuk mencapai tujuan kita.

Ringkasnya, untuk memiliki harapan kita harus yakin bahwa kita ingin mencapai suatu tujuan tertentu, memiliki energi dan bakat untuk mencapainya, kemudian kita harus memperkirakan kemungkinan mencapai agenda tersebut dengan menggunakan energi dan bakat yang tersedia. Pada tahap itu kita akan memiliki perasaan yang nyata bahwa kita memiliki harapan.

  1. Keterhubungan

Keterhubungan adalah pengaruh yang memelihara dan secara sosial mendukung keluarga, teman-teman, tetangga, organisasi kom unitas, identifikasi nasional dan ikatan dunia. Sedangkan, dukungan sosial merupakan sumber terbesar untuk melepaskan stres, karena memiliki pengaruh besar atas interpretasi positif kita mengenai peristiwa-peristiwa.

House (1981) berpendapat bahwa stres yang berkaitan dengan pekerjaan diperlunakan paling efektif dengan memiliki penyelia dan rekan kerja yang suportif, bahkan lebih efektif daripada dengan memiliki pasangan hidup dan kawan-kawan yang suportif di luar pekerjaan. Begitu juga dengan Ray (1991), yang berkomentar bahwa “memupuk kelompok-kelompok pendukung mungkin bukan jawaban (untuk mengurangi stres) dan sebenarnya mungkin merupakan pembangkit stres”. Hal ini tidak berarti bahwa hubungan non-kerja tidak penting, namun bahwa dukungan yang berkaitan dengan pekerjaan mungkin lebih membantu untuk stres yang berhubungan dengan pekerjaan.

Idealnya, organisasi dibentuk untuk mendorong agar dukungan sosial terjadi secara alami. Bila tidak, setiap anggota organisasi harus berusaha untuk memperoleh keterampilan komunikasi interpersonal guna memupuk hubungan berkualitas dan dukungan sosial. Sebagian anggota mungkin memutuskan untuk meninggalkan organisasi yang dinilainya mempunyai iklim negatif dan dukungan komunikatif yang tidak memadai.

  1. Kehati-hatian

Kehati-hatian adalah seni menerima kehidupan ketika kehidupan itu datang dan menikmatinya dari saat ke saat. Kehati-hatian juga berarti bersedia melihat segala sesuatu sebagaimana segala sesuatu itu eksis tanpa usaha untuk menyangka, mengubah atau menyimpangkannya. Kehati-hatian mendorong kita untuk selalu menghargai serta memperhatikan setiap saat yang ada karena seolah-olah setiap saat itu penting. Dengan kemampuan lebih besar dalam mempraktikkan kehati-hatian, kita akan menjadi lebih kuat dan mengalami lebih sedikit stres.

Kehati-hatian diartikulasikan melalui lima prinsip dasar:

Ä Prinsip 1: Tanpa Usaha Keras

Stres banyak disebabkan oleh kita terlalu keras mengerahkan energi kita untuk mencapai sesuatu, padahal sebenarnya segala sesuatu cenderung lebih terselesaikan engan membiarkannya terjadi secar alami. Hal ini identik dengan pendapat Viktor Frank (1959) yang mengemukakan bahwa keberhasilan akan semakin sulit dicapai bila kita terlalu menjadikannya sebagai sasaran. Sebaliknya, keberhasilan haruslah menjadi efek sampingan tak disengaja dari dedikasi pribadi seseorang terhadap upaya yang maksimal.

Ä Prinsip 2: Tanpa Penilaian

Tanpa penilaian (nonjudging) berarti menyaksikan peristiwa kehidupan dan memperhatikan apa yang sebenarnya sedang terjadi (menerima peristiwa apa adanya).

Ä Prinsip 3: Perspektif Terbuka

Artinya, kita memandang hidup dari suatu sudut pandang yang segar, melihat suatu peristiwa dengan cara yang baru.

Ä Prinsip 4: Kepercayaan Diri

Kehati-hatian didasarkan pada kepercayaan pada diri sendiri untuk memperhatikan hal-hal berharga di sekitar kita, meskipun di tengah-tengah kekacauan.

Ä Prinsip 5: Kesabaran

Prinsip ini berarti kita harus memberi waktu kepada segala sesuatu untuk terjadi. Suatu kecerobohan mulai berkurang dan kehati-hatian mulai tumbuh ketika kita melakukan proses interpretasi ulang, pemahaman ulang, dan penciptaan ulang peristiwa di sekitar kita.

  1. Daya Tahan

Daya tahan terdiri dari seperangkat kepercayaan tentang diri sendiri, peristiwa di dunia, dan interaksi antara keduanya yang berasal dari tiga faktor berikut:

Ä Komitmen

Komitmen mendorong kita lebih fokus pada tujuan dan merasa yakin untuk tetap bertahan dan tidak mundur dari langkah-langkah kita dalam mencapai tujuan tersebut. Selain itu, komitmen juga membuat segala sesuatunya lebih efektif dan terhindar dari kelambanan/ kemandegan proses pencapaian agenda-agenda kita.

Ä Kontrol

Kunci bagi pelaksanaan kontrol adalah mempengaruhi hal-hal yang dapat dipengaruhi dan beradaptasi denganhal-hal yang idak dapat dipengaruhi. Daya tahan bergantung pada kontrol, karena kontrol menyebabkan orang tidak merasa lemah atau menjadi korban keadaan.

Ä Tantangan

Gardner (1963) menyatakan bahwa “tidak ada belajar tanpa kesulitan atau usaha.” Bila kita ingin terus belajar, kita harus terus menanggung kegagalan – sepanjang hidup kita.

Tantangan membuat kita untuk memperjuangkan perkembangan-perkembangan yang memungkinkan gangguan dan kegagalan tampak menjadi pengalaman yang membuat kita belajar dan tumbuh.

Mengatasi stres dengan daya tahan berarti mengembangkan komitmen, melaksanakan kontrol, dan menemukan tantangan dalam hidup sejauh bahwa kita mengembangkan kepribadian yang luwes.

  1. Kesediaan Memaafkan

Melalui kesediaan memaafkan, kita memperkuat diri kita sendiri, menemukan kedamaian, ketenangan dan bahkan kesenangan derta kenikmatan dalam hidup (Ten Boom & Sherrill, 1971). Hal ini menyangkut redanya kebencian, yang sebenarnya merupakan perasaan negatif terhadap orang, objek, atau peristiwa yang tampaknya melibatkan apa yang orang lakukan dan katakan pada kita. Kebencian merusak cara kita berkomunikasi dan cara kita menjalani hidup kita. Namun, kesediaan memaafkan dapat membantu kita lepas dari kebencian sehingga kita dapat bebas untuk memilih kedamaian.

Stres dilepaskan ketika kita memilih untuk menafsirkan kata-kata dan tindakan orang lain lebih positif, sebagai tidak mengancam bagi kita dan kita berhenti membenci apa yang orang lain katakan dan lakukan.

Di bawah ini merupakan diagram strategi kesediaan memaafkan:

KEBENCIAN

Kebencian

Fokus pada perasaan Penderitaan

Kejengkelan anda sendiri

yang negatif Stres

Kritik Usaha mengontrol peristiwa

dengan imajinasi Luka

Ancaman Berharap peristiwa

menjauh Rasa takut

Peristiwa Interpretasi Konsekuensi

Nonpenilaian Fokus pada apa yang Kalm

tampak terjadi

Kedamaian

Yakin Melihat peristiwa Kesenangan

dengan objektif

Nyaman Membicarakan peristiwa Kenikmatan

secara deskriptif

Penerimaan

CINTA

Keterangan:

Diagram dimulai dari sebelah kiri dengan suatu peristiwa dan bergerak ke kanan dengan interpretasi dan berakhir dengan konsekuensi. Ketika kita menafsirkan peristiwa sebagai ancaman, kita sedang bergerak ke arah stres. Namun, ketika kita memilih untuk menafsirkan peristiwa tanpa menilai dan memusatkan perhatian pada apa yang terjadi di belakang kata-kata dan tindakan, kita bergerak ke arah penerimaan dan kedamaian.

D. KONFLIK

Konflik didefinisikan sebagai suatu “perjuangan yang diekspresikan antara sekurang-kurangnya dua pihak yang saling bergantung, yang mempersepsi tujuan-tujuan yang tidak sepadan, imbalan yang langka, dan gangguan dari pihak lain dalam mencapai tujuan mereka” (Frost&Wilmot).

“Perjuangan” tersebut menggambarkan perbedaan di antara pihak-pihak tersebut yang dinyatakan, dikenali, dan dialami. Konflik baru terjadi ketika atau setelah perbedaan tersebut dikomunikasikan. Konflik mungkin dinyatakan dengan cara-cara berbeda, dari gerakan nonverbal yang halus hingga pertengkaran habis-habisan;dari sarkasme yang halus hingga kecaman verbal yang terbuka.

Tanda-tanda awal konflik mungkin terlihat dalam peningkatan intensitas ketidaksepakatan di antara anggota-anggota kelompok. Komentar-komentar yang sebelumnya netral bernada tidak ramah. Ketika ketegangan bertambah, tanda-tanda ketidaksepakatan yang lebih eksplisit mengemuka. Konflik dinyatakan melalui keluh kesah, gerakan-gerakan kegelisahan pada wajah, perilaku gagap, sikap bengong, duduk terbungkuk di kursi, melamun, melengos, dan ucapan-ucapan yang ketus.

Gaya Konflik Pribadi

Gaya konflik merupakan kombinasi banyak kepentingan yang kita miliki untuk mencapai tujuan kita sendiri dan banyaknya kepentingan yang kita miliki dalam pencapaian tujuan orang lain.

Terdapat lima gaya konflik pribadi, yang masing-masing melibatkan lima istilah berikut:

  1. Pesaing atau pejuang gigih. Orang uang menggunakan gaya ini mengejar kepentingannya sendiri secara agak lazim dan pada umumnya dengan mengorbankan anggota-anggota lain kelompok. Pejuang gigih memandang kekalahan sebagai tanda kelemahan, status yang menurun, dan suatu citra diri yang ambruk. Kemenanganlah satu-satunya tujuan yang layak, yang merupakan prestasi dan kebahagiaan.
  2. Kolaborator atau pemecah masalah. Orang yang menggunakan gaya ini berusaha menciptakan situasi yang memungkinkan tujuan semua kelompok dapat dicapai. Pemecah masalah berusaha menemukan solusi yang diterima semua pihak. Kemenangan atau kekalahan bukanlah caranya memandang suatu konflik.
  3. Kompromiser atau pendamai penyiasat. Orang yang menggunakan gaya ini berasumsi bahwa setiap orang yang terlibat dalam suatu pertentangan mampu menerima kekalahan, dan ia berusaha membantu suatu posisi yang dapat dijalankan. Suatu pola “mengalah” sering berkembang.
  4. Akomodator atau penolong ramah. Orang yang menggunakan gaya ini kurang tegas dan cukup kooperatif, mengabaikan kepentingannya sendiri demi kepentingan orang lain. Penolong yang ramah merasa bahwa keselarasan harus ditegakkan dan bahwa kemarahan dan konfrontasi adalah buruk.
  5. Penghindar atau penurut impersonal. Orang yang menggunakan gaya ini cenderung memandang konflik sebagai tidak produktif dan sedikit menghukum. Maka penghindar menjauhi situasi yang tidak nyaman dengan menolak untuk terlibat.

Sayangnya, ketika konflik terjadi kita cenderung melakukan dan mengatakan hal-hal yang mengekalkan konflik, bukan mengurangi atau menghilangkannya. Meskipun sulit untuk dilakukan, biasanya terdapat beberapa tindakan yang dapat diambil untuk memulai pengurangan konflik. Dalam kelompok kecil, konflik biasanya paling baik dihadapi lewat proses integrasi.

Integrasi

Tujuan pengambilan keputusan yang integratif adalah untuk memperoleh konsensus. Dasar filosofis konsensus adalah bahwa perbedaan dalam berpikir, merasa, dan berperilaku paling baik diselesaikan dengan memasukkan pandangan semua pihak ke dalam suatu keputusan/ rencana.

Usaha kooperatif dicapai dengan menemukan, mengisolasi, dan menjelaskan bidang-bidang kesepakatan dan pertentangan, sehingga mempersempit bidang perbedaan dan memperbesar bidang penerimaan. Dua bidang perbedaan perlu dikelola:

Ä Perbedaan dalam pemahaman.

Dapat dikelola dengan tiga cara :

  1. Dengan menemukan apa yang orang atau pihak lain maksudkan.
  2. Dengan mengecek keabsahan bukti dan penalaran.
  3. Dengan mengidentifikasi suatu nilai atau tujuan yang lebih mendasar, yang kadang-kadang disebut tujuan yang unggul.

Ä Perbedaan dalam perasaan.

Dapat dikelola dengan lima cara :

  1. Dengan meningkatkan penghargaan diri orang-orang yang bertentangan dengan kita.
  2. Dengan menciptakan suatu atmosfer penelitian.
  3. Dengan melibatkan setiap anggota kelompok dalam diskusi.
  4. Dengan menggunakan ringkasan untuk menunjukkan kepada kelompok apa yang telah dicapai dan apa yang belum dicapai.
  5. Dengan menyediakan peluang untuk menyatakan perasaan.

Pengambilan keputusan yang integratif untuk mengurangi pertentangan menekankan pentingnya kombinasi informasi, logika, dan perasaan untuk mencapai penilaian kolektif terbaik dari kelompok secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: