RSS Feed

HARD NEWS

HARDNEWS – Fransiska MC10-5B

SEMANGAT GNOTA WARNAI HUT PERSATUAN ISTRI KARYAWAN

Jakarta, 6/1 – Persatuan Istri Karyawan (Periska) PT Kaltim Pasifik Amoniak merayakan HUT ke-5, Selasa di Jakarta, dengan menyumbangkan paket GNOTA dari hasil bazar murah dan sumbangan sukarela para karyawannya kepada anak-anak sekolah di Bontang yang kurang mampu.

200 paket GNOTA diserahkan kepada anaka-anak sekolah di wilayah Loktuan, Guntung, dan Sidrap di kediaman Drius P. Pasaribu, selaku Vice President Manufacturing PT KPA, pada hari Selasa, 6/1. Anak-anak yang menerima paket GNOTA ini, langsung sumringah melihat peralatan sekolah, seragam, dan sepatu yang mereka terima.

Tahun ini tercatat, 3700 siswa SD dan 1800 siswa SMP yang kurang mampu. Selasa, 6/1 di Jakarta. Sekretariat GMOTA Bontang, Dirman, mengatakan bahwa siswa-siswi di Bontang banyak yang tidak mampu membeli peralatan sekolah, meskipun biaya pendidikansudah gratis. Darius, pada saat menyerahkan paket GNOTA di rumahnya pada Selasa, 6/1 berujar, “Saya sangat bahagia karena kegiatan sosial di HUT Periska ke-5 ini jauh lebih bermanfaat.”

Saat ini, PT KPA telah membuka rekening GNOTA KPA, yang direncanakan akan digulirkan tiap tahunnya. Darius berjanji untuk lebih banyak lagi melibatkan perusahaan lain dan warga Jepang di perusahaannya, untuk mendukung program-program serupa di tahun-tahun mendatang.

“KAWAN ASUH” MAMPU BERIKAN BEASISWA

Jakarta, 6/1 – “Program ‘Kawan Asuh’ sudah ada seblum saya di Lumajang,” sahut Ny. Fauzi, selaku pengurus GNOTA Lumajang, Selasa di Jakarta. Menurut Ny. Fauzi, program ini sudah pernah dikembangkan pada tingkat SD, dan bila dihidupkan kembali akan mampu memberikan dana bantan beasiswa.

Dalam pelaksanaannya, Ny. Fauzi berencana memanggil seluruh Kepala Sekolah di Lumajang untuk masing-masing diberikan kotak-kotak bertuliskan GNOTA Kawan Asuh. Tiap tiga bulan sekali asing-masing sekolah menyetorkan hasil sumbangan kepada pihak pusat, untuk selanjutnya disumbangkan kepada siswa-siswi yang kurang mampu. Selasa, 6/1, menanggapi perihal pemasukan dana yang masuk tiap bulannya dari instansi terkait, Ny. Fauzi mengatakan, “Tahun ini pemasukan dana dari rekanan sangat banyak.”

Sampai sejauh ini, GNOTA kabupaten baru mampu memberikan beasiswa kepada 50 murid SMA. Selasa, 6/1, Ny. Fauzi mengatakan lebih lanut, “ Mengingat dana di GNOTA masih terbatas, maka untuk tahap awal ini hanya mampu 50 anak, dan nanti kalau dana di GNOTA mencukupi, akan ditambah lagi.”

Ia mengharapkan kerjasama dari seluruh dinas instansi terkait, walaupun kenyataannya terdapat satu instansi yang tidak pernah menyetor sama sekali. Hal ini berdasarkan pernyataannya Selasa, 6/1. Program ini diharapkan mampu meringankan beban orang tua untuk membiayai sekolah anaknya, sekaligus mensukseskan program pendidikan PemKab Lumajang, yakni Wajar Diknas 9 tahun.

GNOTA MENGUCURKAN Rp. 30.900.000,- UNTUK YOGYAKARTA

Yogyakarta, 6/1 – Ketua GNOTA Yogyakarta Selasa ini di Yogyakarta, mengatakan bahwa sebanyak 254 murid di tingkat SD, SLTP, dan Madrasah Ibtaiyah (MI), menerima bantuan dana pendidikan sebesar Rp. 30.900.000,-.

Banutan ini diserahkan oleh Drs. Hardono baru-baru ini di Ruang Utama Atas, Kompleks Balai Kota Yogyakarta, kepada wakil dari siswa SD, SLTP, dan MI yang kurang mampu. PT Sari Husada menyumbang Rp. 28.800.000,- dan sebesar Rp. 1.260.000,- diserahkan oleh orang tua asuh perseorangan, berdasarkan hasil pertemuan Selasa itu.

Selasa, 6/1 Hardono menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan agar semua anak dapat menyelesaikan pendidikan formalnya dengan basis bantuan dari sekolah-sekolah yang ada. Sementara itu, Selasa di tempat yang sama, Walikota Yogyakarta, H. Herry Sudianti mengatakan, anak-anak yang sudah menerima bantuan agar menjadi semakin termotivasi untuk belajar.

Zudianti menambahkan bahwa, kesuksesan pendidikan anak-anak harus didasari kerja sama dan peran aktif dari seluruh masyarakat, agar dapat meningkatkan kualitas pendidikan, dan membantu mensukseskan program Wajib Belajar 9 tahun.

Feature Fransiska MC10-5B

JATUH BANGUN ANAK BURUH MERAIH CITA-CITA

Suara ketikan mesin komputer terdengar di ruangan Irwan Irawan. Tiap kata merangkaikan kisah hidupnya. Ia duduk, mengulang kembali masa-masa ia memperjuangkan pendidikannya.

Hari ini boleh jadi Irwan Irawan adalah lulusan Sarjana Ekonomi di salah satu universitas ternama di Indonesia, namun hal itu tidak terbayangkan dapat diperoleh karena latar belakangnya yang adalah anak seorang buruh. Dilahirkan di lingkungan pedesaan, membuat keluarganya menjadikan bertani sebagai mata pencaharian yang utama.

Ayahnya seorang petani dan peternak itik. Seiring berjalannya zaman teknologi, lahan pertanian di desanya berubah menjadi gedung-gedung bertingkat. Ayahnya pun beralih profesi menjadi seorang penjahit di pabrik tekstil. Ibunya pun menjadi perajut.

Irwan waktu itu masih bersekolah di tingkat SD. Biaya sekolahnya tertolong oleh sepasang suami istri baik hati yang dengan tulus mau menjadi orang tua asuh bagi Irwan, lewat program GNOTA. Irwan memang anak yang pandai. Ia meraih juara kelas tiga besar. Selain itu, ia anak yang rajin. Demi membantu orang tuanya, ia berjualan es buah kemudian hasilnya ditabung untuk biaya kebutuhan sehari-hari.

Memasuki masa remajanya di tingkat SMP, muncul kekhawatiran dalam hati Irwan, karena ia tak lagi mendapat bantuan dari GNOTA. Namun lagi-lagi Irwan dapat bersyukur, karena prestasinya di sekolah membuatnya memperoleh beasiswa dari Dana JPS Bank Dunia. Ia juga mencoba berjualan sepatu pada teman-temannya.

Di SMA, Irwan mengalami proses pembentukan jati dirinya. Kadangkala, ia merasa minder dengan keadaan ekonomi di keluarganya. Meskipun demukian, ia tetap tegar dan rajin ikut kegiatan organisasi di sekolahnya. Ia pun aktiif dalam kegiatan Kelomlok Diskusi Keagamaan, menjadi remaja masjid.

Akhir masa SMAnya, Irwan ingin sekali melanjutkan studinya ke tingkat perguruan tinggi. Ia ingin sekali masuk jurusan ekonomi di salah satu fakultas yang dinginkannya. Namun ia harus berbesar hati untuk mengurungkan niatnya tersebut, sebab orang tuanya tidak sanggup membayar baiay kuliah yang begitu mahal.

Ia pun akhirnya meneruskan hidup dengan bekerja menjaadi sales teflon keliling, mengikuti pelatihan menjadi pagawai asuransi, bekerja di perusahaan asuransi, bahkan menjadi Office Boy (OB) di acara pernikahan. Terakhir, ia bekerja di salah satu toko buku ternama selama tiga bulan.

Beruntung setelah itu, ia ditawari teman-temannya untuk menjalankan usaha makanan. Irwan menjadi pengelola sebuah kantin dan makanan kecil tersebut, sementara kedua temannya kuliah. Irwan yang menyadari hal itu, mulai timbul kembali keinginannya untuk mencoba tes masuk perguruan tinggi. Dengan modal coba-coba dan tekad yang besar, akhirnya Irwan pun berhasil masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya.

Barulah ia tersadar bagaimana ia akan membayar biaya kuliahnya itu. Namun Irwan tidak kehilangan akal karena tidak ingin melepas kesempatan belajar kali ini. Ia pun mencari-cari informasi mengenai program beasiswa yang mungkin diadakan oleh pihak universitas. Ia berhasil menemukan informasi Beasiswa Etos Dhuafa Republika yang mampu mendanai biaya kuliah mahasiswa yang kurang mampu. Setelah ia menyelesaikan proses administrasi beasiswa tersebut, Irwan akhirnya dapat menjalani aktivitasnya menjadi seorang mahasiswa dengan tiga tahun pertama dibiayai oleh beasiswa etos tersebut.. Ia belajar banyak, pikirannya terbuka akan banyak hal. Ia mempelajari ilmu manajemen dengan tekun dan berorganisasi di beberapa kegiatan kampus. Setelah lulus, Irwan kini bekerja sebagai supervisor bagi para mahasiswa penerima beasiswa etos di asrama.

Irwan demikian menjalani perjuangan hidupnya meraih kesuksesan dan kehidupan yang lebih baik. Dilahirkan dari keluarga tidak mampu tidak membuatnya patah semangat dan kehilangan harapan, sebaliknya teus tegar dan percaya bahwa Tuhan selalu mempunyai jalan keluar dari setipa cobaan yang dihadapinya. Zaman sekarang ini, dengan adaya krisis ekonomi global, semakin banyak Irwan lain bahkan di sekitar kita. Mampukah kita mengetuk sanubari untuk membantu mereka agar janga sampai mereka kehilangan harapan akan hidup yang lebih baik, agar jangan sampai mereka merasa sendirian dalam menanggung beban hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: