RSS Feed

MEDIA ECONOMIC PRESSURE AND SOCIAL RESPONSIBILITY

Kasus 1: Tayangan Kekerasan Program Smackdown di Lativi

Smackdown adalah program gulat adopsi Amerika yang ditayangkan di Indonesia. Tayangan ini pernah ditayangkan oleh dua stasiun televisi (TV) di Indonesia, yakni Indosiar dan Lativi, namun stasiun yang terakhir ini menjadi lebih disorot. Ada beberapa judul dari acara ini, namun kebanyakan orang mengenalnya sebagai smackdown.
Tayangan ini ditayangkan sekitar pk.21.00. Stasiun TV yang menayangkan tidak memperhatikan kemungkinan pada jam tersebut banyak anak yang masih terjaga dalam artian belum tidur. Banyak para orang tua memprotes tayangan ini, untuk segera dihentikan, termasuk juga KPID Jabar di Bandung, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, serta Menneg PP Dr. Meutia Hatta. Ketua KPID, Dadang Rachmat menyatakan seruan untuk menghentikan tayangan smackdown yang dinilainya telah melegalisasi kekerasan
Tayangan ini sungguh meresahkan masyarakat karena banyak anak terinspirasi untuk meniru adegan kekerasan ini, yang dilakukan kepada teman atau saudara kandungnya. Reza Ikhsan Fadillah adalah salah satu korban smackdown temannya yang juga adalah seorang anak. Dikabarkan bahwa temannya yang menjjadi pelaku ini berada dalam tekanan mental tinggi setelah kejadian ini. Dua siswa SDN Babakan Surabaya 7 juga menjadi korban teman-temannya yang menirukan tayangan tersebut. Keduanya adalah Ahmad Firdaus (9) dan Angga Rakasiwi (11). Ahmad Firdaus mengakui di-”smackdown” oleh tiga temannya di dalam kelas. Siswa kelas III itu sempat dirawat di ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Angga bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit.. Ada 13 anak yang menjadi korban dampak tayangan smack down, akibat mereka mempraktekkan adegan gulat smackdown.
Lativi melalui PRnya, Raldi Roy menyampaikan responsnya terhadap berbagai kasus kekerasan yang menimpa anak-anak karena meniru gerakan smackdown:
1. Lativi mengubah jam tayang menjadi pukul 22.00
2. Ditulis logo dewasa di pojok kiri layer monitor selama tayangan smackdown
3. Penambahan tayangan text: “Tidak untuk ditiru”
4. Penampilan program promo visual menampilkan orang dewasa yang menasehati agar anak-anaka tidak menonton dan meniru adegan program tersebut.
5. Lativi melakukan kunjungan ke rumah Reza yang menjadi korban smackdown temannya.
Raldi Roy mengungkapkan bahwa program smackdown mendapat rating yang cukup baik, sehingga kala itu Lativi sepertinya tidak berniat untuk menghentikan tayangan ini. Harun, selaku manajemen Lativi mengungkapkan harapan agar pemerintah lebih proporsional dan konsisten dalam menertibkan tayangan TV karena menurutnya, tayangan ini juga dapat ditonton melalui tv kabel, vcd, dvd dan play station.

Kasus 2: Tayangan Demonstrasi Anti Freeport di Kampus Universitas Cenderawasih

Unjuk rasa mahasiswa di pintu gerbang Kampus Universitas Cendrawasih (Uncen) Jayapura, Papua, berubah menjadi kerusuhan ketika polisi berusaha membubarkan aksi mereka.
Ratusan mahasiswa pun langsung menyerang polisi dengan batu, sambil berlari masuk ke areal kampus. Sementara polisi berusaha menghalau dengan menembakkan gas airmata. Akibat serangan pengunjuk rasa, sejumlah polisi nampak terluka bersimbah darah. Dalam aksi ini, tiga aparat kepolisian dan satu anggota TNI Angkatan Udara meninggal. Sementara tercatat 19 aparat keamanan terluka.
Tiga anggota polisi yang tewas adalah anggota Dalmas Bharatu Daud Sulaeman dan dua anggota Brimob Polda Papua masing-masing Briptu Arizona dan Brigadir Syamsuddin. Para korban yang terluka maupun meninggal kemudian dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Abepura. Tiga aparat kepolisian yang tewas sebelumnya dikabarkan sempat disandera oleh pengunjuk rasa.
Akibat kejadian ini, suasana Kota Jayapura sempat mencekam meski suasana sudah bisa dikendalikan. Hingga Kamis (16/3/2006) sore, polisi masih menyisir areal pembunuhan dibelakang Kampus Uncen untuk mencari pengunjuk rasa yang menyerang aparat kepolisian hingga tewas.
Ketika itu, televisi menayangkan visual kekerasan yang luar biasa sadis. Stasiun-stasiun TV menayangkan gambar hidup dua orang polisi yang tadinya mengamankan demonstrasi anti Freeport di kampus Universitas Cenderawasih, tergeletak dan terus dihujani dengan pukulan tangan kosong, kayu dan batu, sampai puncaknya: muncratan darah dari kepala salah satu polisi yang malang itu. Kerusuhan di Papua perihal tuntutan dihentikannya Freeport telah menjelma menjadi ladang pembunuhan dan penganiayaan. Para aparat yang betugas (polisi, TNI) menjadi bulan-bulanan massa: dikeroyok, dibacok, dinjak, ditendang, dikepruk batu. Gambar yang membuat nyaris histeris adalah gambar seorang polisi yang merangkak dalam keadaan luka parah, dihujani batu-batu besar di punggung dan kepalanya, dengan kekuatan sepenuh tenaga oleh pelempar, dan gambarnya sangat jelas di televisi kita. Polisi itu berhenti merayap dengan kepala bersimbah darah.
Kini, akibat tayangan sandiwara sadis yang ditayangkan secara terus menerus oleh sebuah stasiun televisi, seorang anak diberitakan meninggal dunia 16 November lalu setelah menderita lebih dari sebulan.

Analisa:
• Kasus Tayangan Lativi Smackdown
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kasus Lativi smackdown:
1. license to operate
Kalau masyarakat tidak menonton tayangan smackdown, maka dengan sendirinya rating akan turun. Sebaliknya, apabila kita menonton tayangan ini, maka kita memberikan “license to operate” bagi tayangan ini.
2. social license to operate
Social lisence to operate bias diarahkan pada sponsor yang mendukung tayangan ini. Mensponsori tayangan barerti mendukung pada apa yang ditayangkan. Masyarakat dapat mengajukan ketidaksetujuan pada sponsorship tayangan ini.
3. prinsip Corporate Social Responsible (CSR)
Dalam prinsip CSR, perusahaan mempunyai tanggung jawab untuk menjaga kelangsungan ekonomi perusahaan, dengan patuh pada peraturan dan hukum yang berlaku, melakukan kegiatan bisnis yang beretika dan memiliki tanggung jawab sebagai ”corporate citizen”.

4. alasan kebebasan pers
Stasiun-stasiun televisi selalu berlindung di balik alasan kebebasan pers untuk menolak pemberlakuan pengaturan siaran yang diperjuangkan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran yang ditetapkan oleh KPI, telah terdapat aturan yang menyatakan, tidak diperkenankannya tayangan yang dapat menimbulkan dampak traumatis terhadap pemirsa. Kenyataannya, aturan ini dianggap akan memasung hak masyarakat untuk menerima informasi. Selain itu, dampak traumatis juga dianggap bukan sesuatu yang cukup jelas atau bukan merupakan dampak umum bagi pemirsa.

• Kasus Tayangan Demonstrasi Anti Freeport
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam kasus demonstrasi Freeport:
1. hak masyarakat mengetahui informasi
Masyarakat memang memiliki hak akan informasi, namun harus dibatasi. Dalam kasus Freeport, masyarakat berhak tahu protes diselingi kekerasan yang dilakukan mahasiswa terhadap korban meninggal empat aparat, tetapi masyarakat tidak perlu disuguhkan proses orang meregang nyawa atau proses rekonstruksi pembunuhan. Dampaknya hanyalah timbul rasa kasihan, sedih, benci, dendam.
2. sadisme
Tayangan kekerasan demonstrasi Freeport bukan menayangkan actor atau sakit yang pura-pura. Masyarakat tahu aparat yang sekarat itu bukan aktor, melainkan orang nyata dengan sakit yang nyata pula. TV Indonesia kerap menampilkan jurnalisme darah dan mayat (blood and body journalism). Sadisme sebetulnya masuk di berbagai kode etik jurnalistik, di KEWI (pasal 4), PWI (pasal 3), AJI (ayat 12), dan IJTI (Ikatan Jurnalis televisi Indonesia) (pasal 5). Bila dalam persoalan privasi, praduga tak bersalah, kamera dan mikrofon tersembunyi, serta penyamaran, keempat Kode Etik itu saling tidak sepakat, tidak seluruhnya memuat dalam KE yang mengikat- untuk sadisme, keempat kode etik itu menganggap penting.
3. hati nurani, rasa kemanusiaan, dan prinsip jurnalisme
Setiap jurnalis akan mengenal lima prinsip jurnalisme, yaitu akurat, obyektif, fair, seimbang dan tidak memihak. Kelima prinsip itu menjadi pegangan kerja sehari-hari para jurnalis dalam mengumpulkan dan menulis berita. Jurnalis juga harus mengasah hati nurani dan rasa kemanusiaannya.
4. independensi redaksi media pertelevisian
Independendensi redaksi media terancam oleh kepemilikan media, yaitu para pemodal dunia TV. Jurnalis pertelevisian harus menjadi orang-orang yang punya kepercayaan tinggi terhadap nilai dan prinsip jurnalisme.
5. industrialisasi kepemilikan modal televisi
Kecenderungan pemodal hanya mengejar rating, sehingga kalau ada model atau teknis pemberitaan, seperti tayangan berita kriminal memiliki rating tinggi, maka model atau teknis itu yang akan diandalkan atau ditiru. Hal lain adalah pemodal tidak mau jajaran redaksi memproduksi karya-karya jurnalisme yang mendalam, seperti investigasi, sebab secara operasional produk-produk semacam itu memerlukan banyak tenaga dan dana.

TEORI-TEORI ETIKA:
• Kasus Tayangan Lativi Smackdown
Teori teleologi: mengarah pada tujuan, sasaran, akibat, dan hasil. Suatu tindakan dikatakan baik jika tujuannya baik dan membawa akibat yang baik dan berguna. Tayangan smackdown berakibat tidak baik, mengacu pada adegan kekerasan yang ditiru anak-anak sampai menyebabkan kematian.
Teori utilitarisme: utilitarisme perbuatan berprinsip pada manfaat terbesar bagi jumlah orang terbesar. Prinsip tersebut dipakai untuk menilai kualitas moral suatu perbuatan. Moralitas tindakan harus dilakukan dengan menimbang kegunaannnya untuk mencapai kebahagiaan umat manusia. Tayangan smackdown tidak memiliki kegunaan untuk mencapai kebahagiaan orang banyak. Yang ada malah mengkhawatirkan banyak orang, mulai dari orang tua sampai lembaga negara dan pemerintah.
• Kasus Tayangan Demonstrasi Anti Freeport
Teori deontologi: Perbuatan baik adalah yang diperintahkan oleh agama sedangkan perbuatan buruk adalah yang dilarang oleh agama.
Berdasarkan agama, manusia dilarang membunuh. Tindakan mahasiswa Uncen menjadi tidak benar karena tidak melakukan kewajiban seturut agama.

Prinsip Moral Dasar Umum:
1. Prinsip berbuat baik (positif) dan prinsip tidak berbuat jahat (negatif)
Bagi stasiun televisi, urusan memaksimumkan dampak positif mungkin bukan hal yang kelewat sulit, walaupun masih juga banyak hal yang masih harus dilakukan untuk menjadikannya benar-benar maksimum. Contoh paling nyata adalah iklan layanan masyarakat yang membawa banyak pesan yang baik. Entah itu digratiskan oleh stasiun televisi, dibayar sebagian atau dibayar penuh, isinya yang baik tetap membawa dampak positif. Contoh lainnya adalah pengumpulan dana untuk sumbangan kepada para korban bencana alam. Stasiun televisi telah berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah yang tidak sedikit untuk membantu mereka yang sedang menderita.Stasiun televisi dapat terus mengembangkan dirinya untuk mencari cara-cara kreatif agar dampak positif dapat mereka tingkatkan melalui siarannya.
2. Prinsip keadilan
Lembaga negara dan pemerintah harus adil dalam menertibkan baik tayangan-tayangan televisi maupun media lainnya. Lativi tidak menjadi satu-satunya media yang menayangkan program smackdown, stasiun TV Indosiar pun pernah menayangkan program ini. Media lainnya adalah tv kabel, vcd, dvd dan play station.
3. Prinsip menghargai sesama orang lain dan rasa kemanusiaan
Menayangkan aparat yang dipukuli, sekarat, kemudian menemui ajalnya, tidak hanya membuat miris pemirsa yang menonton, tetapi juga ada hati anggota keluarga korban yang perlu dijaga oleh jurnalis stasiun TV. Pihak stasiun TV menyuguhkan tayangan yang dapat membuat sedih perasaan keluarga yang ditinggalkan apabila mereka menayangkannya berulang-ulang.

4. Prinsip kejujuran terhadap diri sendiri
Setiap jurnalis memliki prinsip-prinsip jurnalis yang dipegangnya ketika menjalankan tugas jurnalisnya. Lebih dari itu, ia juga harus memiliki kepekaan dan jujur terhadap dirinya sendiri, tayangan yang disajikan memiliki tanggung jawab sosial dan pantas untuk disaksikan atau malah sebaliknya.
5. Prinsip dilarang membunuh atau menghilangkan nyawa seseoang
Mahasiswa Uncen menjadi kehilangan kontrol dalam melampiaskan amarah akan kepentingannya. Mereka membunuh aparat yang tidak bersalah dan tidak bertanggung jawab atas persoalan yang terjadi. Aparat tersebut hanya menjalankan kewajiban untuk menjaga keamanan, tetapi malah menjadi sasaran empuk kemarahan mahasiswa.
6. Prinsip tidak melakukan kekerasan terhadap sesama
Lativi tidak memiliki kepekaan sosial untuk membangun masyarakat yang saling mengasihi, jauh dari kekerasan, tetapi malah menayangkan acara kekerasan.
7. Prinsip saling memaafkan dan tidak mendendam
Tayangan demonstrasi Freeport memiliki potensi memunculkan perasaan benci dan dendam terhadap pelaku kekerasan. Moral yang sebaliknya harus dibangun adalah prinsip saling memaafkan dan tidak mendendam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: