RSS Feed

PERAN PEMUKA PENDAPAT SEBAGAI KOMUNIKATOR POLITIK

BAB I
LATAR BELAKANG

Perkembangan Pemuka Pendapat di Indonesia

Pemuka pendapat (opinion leader) adalah seseorang yang dipercaya untuk menyampaikan informasi dan menyatakan pendapatnya kepada masyarakat. Pemuka pendapat dapat melekat pada kehidupan di perkotaan, maupun di pedesaan.
Masyarakat desa mengenal pemuka pendapat seperti kyai, dukun, tetua kampung, dan pemuka adat. Ambil contoh kyai. Kyai adalah seorang pemuka pendapat yang bersifat polimorfik, di mana ia menguasai lebih dari satu permasalahan. Seorang pemuka pendapat di pedesaan dimintai pendapatnya oleh masyarakat sekitar mengenai suatu hal, dan dampaknya adalah untuk mempengaruhi pola tingkah laku masyarakat secara formal. Misalnya saja, seorang kyai tidak hanya dimintai pendapat untuk mengobati penyakit, tetapi juga hal lain seperti bercocok tanam dan perjodohan (Nurudin, 2008).
Tidak seperti di pedesaan di mana masyarakatnya memiliki tingkat yang rendah baik terhadap pendidikan maupun pengenalan media, masyarakat perkotaan lebih maju tingkat pendidikannya (melek huruf) serta pengenalannya terhadap media massa. Hal ini menyebabkan masyarakat perkotaan lebih selektif terhadap pernyataan pemuka pendapat. Faktanya bahwa masyarakat perkotaan dapat langsung mengakses media massa secara langsung (pemimpin pendapat berfungsi sebagai perantara). Media massa menjadi monopoli pemimpin pendapat, di mana umpan balik yang didapat dari media massa, akan langsung mempengaruhi audiens. Model komunikasi yang terjadi demikian adalah model alir banyak tahap (Nurudin, 2008).
Namun, bukan berarti pemuka pendapat tidak berperan sama sekali pada masyarakat perkotaan. pemuka pendapat di perkotaan berkembang di dalam kehidupan politik dan sosial. Contoh dalam kehidupan politik adalah pada pilpres 2009, di mana banyak stasiun TV yang menayangkan pendapat para pengamat politik mengenai kancah pemilihan presiden tersebut. Nama-nama seperti Bima Arya Sugiarto, Yunarto Wijaya, Ray Rangkuti, Burhanuddin, Hadar Navis Gumay, Johan Silalahi, Jeirry Sumampouw dan Effendy Gazali adalah para pengamat politik muda yang berdasarkan Charta Politika, paling banyak dimintai pendapatnya di media. Charta politika adalah sebuah wadah yang menyajikan survei dan analisa data politik (http://www.chartapolitika.com/?GSnevS/ hZAXCKWMG)
Selain para pengamat politik, ada beberapa tokoh politik lainnya yang menjadi pemuka pendapat, seperti Gus Dur, Megawati, dan Kwik Kian Gie. Dua nama yang disebut pertama, pernah berkuasa di Indonesia dan memiliki simpatisan dalam jumlah cukup besar. Berdasarkan data, pada pemilu presiden 2009 ini pasangan Megawati-Prabowo meraih suara 28,6% yaitu sejumlah 18.908.132 suara (http://shodiq.com/ 2009/07/07/hasil-quick-count-penghitungan-suara-pemilupemilihan-presiden-pilpres-2009/).
Diketahui bahwa jumlah pemilih tetap pemilu presiden 2009 adalah sebanyak 171.265.442 orang, berdasarkan pernyataan Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary (http:// http://www.pemiluindonesia.com/pemilu-2009/pemilu-2009-total-jumlah-pemilih17126544 2-orang.html). Megawati memiliki pengikut yang cukup besar untuk dapat mendukung pernyataan-pernyataannya. Di lain pihak, meskipun Gus Dur tidak ikut dalam pemilihan presiden tahun 2009, namun ia tetap mampu menentukan sikap dan perilaku para pengikutnya ke arah mana suara PKB akan tersalurkan, dalam keadaan internal partainya yang terbagi dua.
Pemuka pendapat tidak hanya berkembang dalam kehidupan politik, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Salah satu contohnya adalah program KB yang dijalankan di Indonesia pada tahun 1970an. Program KB ini cukup berhasil karena telah menurunkan angka rata-rata kelahiran dari 5.6 menjadi 2.3. Sekitar 29 juta akseptor KB, lebih dari 90 persennya adalah kaum perempuan (http://www.ictwomen. com/article/20/tahun/2009/bulan/06/tanggal/29/id/1418/). Hal ini membuktikan wanita juga dapat berperan sebagai pemimpin pendapat. Capres SBY, JK, dan Megawati dalam debat capres 2009 menyatakan akan menjalankan program KB jika diperlukan untuk mengatasi masalah demografis di Indonesia. Oleh karena itu, capres terpilih harus memperhatikan peran wanita sebagai pemuka pendapat dalam menyukseskan program Keluarga Berencana nanti.
Sehubungan dengan atmosfer akhir-akhir ini mengenai pemilihan presiden, maka yang akan dibahas adalah mengenai peran pemuka pendapat di dalam kehidupan politik khususnya di Indonesia.

BAB II
PERMASALAHAN

2.1 Pengamat Politik dalam Pemilu 2009
Pada Pemilu 2009, media massa banyak menayangkan pendapat para pengamat politik mengenai kancah persaingan capres-cawapres 2009-2014. Telah disebutkan sebelumnya bahwa banyak pengamat politik muda seperti Bima Arya Sugiarto, Yunarto Wijaya, Ray Rangkuti, Burhanuddin, Hadar Navis Gumay, Johan Silalahi, Jeirry Sumampouw dan Effendy Gazali, menjadi pemuka pendapat pada media terutama televisi.
Seorang ilmuwan politik sebuah organisasi LIPI, Syamsudin Haris menyatakan, terdapat lima kekuatan poltik yang mempengaruhi proses demokrasi, yaitu:
1. partai politik
2. birokrasi, terdiri dari militer, organisasi masyarakat, dan tokoh masyarakat
3. tokoh keluarga
4. pemimpin pendapat lainnya, yaitu kaum intelektual, akademisi, mahasiswa, dan media massa
Kekuatan di atas diurutkan kembali oleh Lembaga Survei Indonesia berdasarkan besarnya pengaruh yang dihasilkan. Hasilnya adalah, setelah pemilu 2004, birokrat menempati tempat pertama dalam memberikan pengaruh pada dunia politik, diikuti dengan organisasi masyarakat atau pemuka pendapat, kemudian media massa dan kaum intelektual, dan yang paling sedikit pengaruhnya adalah partai politik (http://www. mambangmit.com/content/view/125/32/).

2.2 Profil Para Pengamat Politik sebagai Pemuka Pendapat
Berikut adalah sepak terjang dari beberapa pengamat politik di Indonesia yang paling banyak dimintai pendapatnya di media:

2.2.1 Bima Arya Sugiarto
Bima adalah seorang pengamat politik muda lulusan Universitas Paramadina, sekaligus Direktur Eksekutif Charta Politica. Ia adalah salah satu pengamat politik yang sering mendapat permintaan wawancara di media. Terbukti, ia pernah melayani permintaan wawancara live di TV sebanyak 19 kali, dan lima wawancara telepon, yang dilakukan hanya dalam sehari saja. Tidah hanya itu, Bima juga melayani undangan diskusi ke seluruh daerah Indonesia. Bima menuturkan pada detik.com bahwa ia pernah melakukan kontrak dengan TV One selama tiga hari berturut-turut (http://www.detiknews.com/read/2009/05/25/110508/1136544/608/bima-ar ya-sehari-layani-24-wawan cara-sedari-pukul-6-pagi).
Bima tidak memungkiri bahwa pemilu presiden 2009 ini juga diwarnai oleh pendapat-pendapat konsultan politik. Dalam beberapa kesempatan juga Bima banyak dimintai pendapatnya tentang langkah-langkah politik yang dilakukan oleh salah satu partai politik, serta mengomentari jalannya debat capres yang diadakan beberapa putaran sebelum pemilu dimulai.

2.2.2 Ray Rangkuti
Ray adalah seorang Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), juga mantan Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Ia juga pernah mencoba menjadi anggota Badan Pengawas Pemilu namun gagal. Ray juga dipastikan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Bintang Reformasi (DPP PBR), Bursah Zarnubi, menjadi wakil rakyat dari PBR pada Pemilu Legislatif 2009 Ia juga banyak dimintai pendapatnya dalam hal politik, contohnya adalah perihal ikrar kampanye damai yang dimotori oleh KPU terhadap partai politik (http://www.inilah.com/berita/ 2009/03/16/90870/ikrar-kampanye-damai-hanya-seremoni/), daftar pemilih tetap, tindakan KPU, parpol, diskusi pilpres, dan sebagainya.

2.2.3 Effendi Gazali
Effendi Gazali menjalani salah satu profesinya sekarang ini sebagai seorang kolumnis di media massa. Ia menjalani pendidikan Ph.D di bidang komunikasi politik di salah satu universitas di Belanda. Effendi mendapat penghargaan internasional atas gagasan programnya di RCTI yaitu program BBM (Benar-Benar Membangun) (http://www.bemmipauns.com/berita/infor masi/130-bbm-effendi-gazali-dapat-penghargaan-internasional-program-me narik.html). BBM adalah program yang mengangkat hal-hal politik yang terjadi secara komedi.
Berkaitan dengan posisinya sebagai pemuka pendapat dalam kehidupan politik di Indonesia, Effendi banyak memberi pendapat melalui media, misalnya saja mengenai KTP dapat digunakan sebagai syarat mencontreng, pemilu 2009, memprotes sikap capres SBY, keterbukaan lembaga survei, dan lainnya.

2.3 Contoh Pernyataan Pengamat Politik dalam Debat Capres
1. Pengamat politik dari Universitas Nasional Jakarta, M Alfan Alfian.
• Ia menyatakan pada dua kali putaran debat capres, SBY diuntungkan karena yang perlu dilakukan SBY hanya membenarkan pernyataan moderator saja.
• Ia menyampaikan informasi bahwa publik tidak hanya mengharapkan visi-misi capres saja, tetapi juga mental dan psikologis dari capres tersebut.
(http://www.antara.co.id/view/?i=1246012045&c=NAS&s=POL)
2. Pengamat politik LIPI, Syamsuddin Haris dan Direktur Ekskutif Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia (UI) Sri Budi Eko Wardani.
Mereka menyatakan bahwa debat capres sia-sia karena masyarakat pasti sudah menentukan pilihannya sebelum debat dilaksanakan.
(http://jakartapress.com/news/id/7291/Debat-Capres-2009-Tidak-Bermutu.jp/).
3. Peneliti senior Lembaga Survei Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dan pengamat komunikasi politik Universitas Gajah Mada (UGM) I Gusti Ngurah Putra.
Mereka menyatakan, format tanya jawab pada debat capres akan lebih efektif.
(http://jakartapress.com/news/id/7291/Debat-Capres-2009-Tidak-Bermutu.jp/)
4. Pengamat politik dari CSIS, J. Kristiadi.
Ia menyatakan kepuasannya kepada tiga capres yang tetap menunjukkan sikap yang beradab satu sama lain.
(http://berita.liputan6.com/politik/200906/234050/Pengamat.Debat.Capres.Mem banggakan).
5. Pengamat politik senior LIPI, Indria Samego.
• Ia menyatakan usaha serang-menyerang yang dilakukan antarcapres.
• Ia mengingatkan para capres untuk dapat memberikan bukti dan fakta pada setiap pernyataan yang dibuat.
(http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/06/18/12014613/pengamat.serang-menyerang.warnai.debat.capres.pertama).

2.4 Pengaruh Dukungan Para Pemimpin Pendapat Terhadap Pasangan Capres JK-Win
Pada survei yang dilakukan bulan Juni lalu, pasangan JK-Win memeperoleh kenaikan persentase pemilih, yaitu dari 13,2% menjadi 26,57%. Jika dikaitkan dengan peran pemuka pendapat, pasangan JK-Win memiliki dukungan dari berbagai pemuka pendapat, yaitu:
1. organisasi Islam, terdiri dari Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, al-Washiliyah, al-Khairat, Nadhlatul Wathan (NW), KAHMI, HMI dan Forum Da’i Muda Indonesia.
2. kelompok profesi, terdiri dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), kalangan pekerja seni, dan Selebriti Indonesia Pendukung Pemenangan JK-Wiranto yang dipimpin Anwar Fuadi.
3. kelompok muda, terdiri dari Aliansi Muda Nasional (AMN), Poros Pemuda Indonesia, Kampung Jawir serta badan otonom partai politik pendukung SBY-Boediono (http://pemilu.inilah.com/berita/2009/06/0 5/112766/berjibun-dukungan-jk-win-blunder/)
Pengaruh lainnya adalah latar belakang budaya yang beragam yang dimiliki oleh pasangan ini. Jusuf Kalla memiliki ayah seorang pendiri Nahdlatul Ulama di Sulawesi Selatan, sementara ibunya adalah seorang pengurus Aisyiyah Muhammadiyah. Istrinya, Mufidah, berasal dari Sumatera Barat. Cawapres Wiranto berasal dari Jawa dan beristrikan orang Gorontalo.
Kediaman Jusuf Kalla didatangi oleh tim kampanye daerah, pimpinan majelis raja-raja Maluku, unsur Malino, dan beberapa jaringan kerja di Maluku. Bagi raja Maluku, Jusuf Kalla dianggap upulatupel, yang artinya raja di atas raja. Tidak hanya raja, tetapi juga 40% masyarakat Maluku mendukung Jusuf Kalla. Alasan ini bukan hanya karena asal-usul daerah yang sama, tetapi juga karena Jusuf Kalla dianggap mampu menyelesaikan konflik yang terjadi di Tim-Tim (http://acehlong.com/2009/ 06/18/raja-raja-maluku-beri-dukungan-ke-jusuf-kalla/). Dukungan lain datang dari korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI ).
Dari jajaran parpol, pasangan ini mendapat dukungan dari parpol di Maluku Utara yaitu PAN, PKB, PBB, PPRN, PDK dan PPDI. Alasan parpol ini selain karena percaya pada kemampuan JK-Win untuk memimpin bangsa, juga karena dianggap sebagai perwakilan nusantara di mana JK berasal dari wilayah timur Indonesia, sementara Wiranto berasal dari wilayah barat Indonesia. Alasan asal-usul budaya juga menjadi pemicu 40 orang tim sukses JK-Win di Padang memilihnya. Mereka menyatakan JK adalah saudara ipar orang Minang, sehingga mereka memilihnya (http://acehlong.com/2009/05/19/dukung-jk-karena-dianggap-iparnya-orang-minang/)

2.5 Kegagalan Peranan Pemuka Pendapat
Konflik Poso yang kian merebak, dinilai sebagai akibat dari kegagalan peranan pemuka pendapat di daerah Poso, untuk mampu menjalankan komunikasi yang efektif. Pemuka pendapat yang dimaksud adalah pemerintah, intelektual, jurnalis, peneliti, dosen, dan kaum muda Poso. Yang lebih banyak berperan justru adalah pemuka pendapat luar Poso seperti pemerintah pusat, markas besar kepolisian dan militer, para aktivis LSM Pusa, kumpulan intelektual, pengamat pusat, jurnalis serta media pusat.
Kurang berperannya pemuka pendapat masyarakat sekitar dibandingkan peranan pemuka pendapat “luar” dinilai tidak efektif. Hal ini berkaitan dengan teori keefektifan peranan yang dilakukan oleh pemuka pendapat, yaitu bahwa faktor berasal dari kelompok sejenis akan lebih dipercaya karena dianggap tidak memiliki kepentingan tertentu (Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen, 2003). Mantan Presiden Abdurrahman Wahid, sebagai salah satu pemuka pendapat menyatakan pula bahwa konflik di daerah setempat seharusnya diselesaikan oleh masyarakat setempat itu sendiri (Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen, 2003).
Dikatakan dalam buku “Taksonomi Konsep Komunikasi” bahwa pemuka pendapat adalah sebagai kelompok kedua setelah inovator, yang mengadopsi dan mengesahkan pernyataan atau ide kepada masyarakat, untuk dapat diterima. Kalau ia tidak dapat mengadopsi ide dengan benar, maka proses adopsi akan gagal (Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen, 2003).

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Teori Pemuka Pendapat
3.1.1 Pengertian Pemuka Pendapat
Pemuka pendapat adalah orang yang memiliki berbagai keunggulan di antara masyarakat sehingga dapat menjadi perantara informasi bagi masyarakat. Keunggulan yang dimiliki seorang pemuka pendapat sehingga dapat memiliki kredibilitas dalam meneruskan informasi dan menyampaikan pendapatnya adalah sebagai berikut:
a. Lebih tinggi pendidiksn formalnya dibanding anggota masyarakat yang lain
b. Lebih tinggi Status Sosial Ekonominya (SSE)
c. Lebih inovatif dalam menerima dan mengadopsi ide baru
d. Lebih tinggi pengenalan medianya (media exposure)
e. Kemampuan empatinya lebih besar
f. Partisipasi sosial lebih besar
g. Lebih kosmopolit (memiliki wawasan dan pengetahuan yang lebih luas) (Nurudin, 2008)

3.1.2 Syarat Menjadi Pemimpin Pendapat
Berikut adalah pernyataan Ioyd Ruch dalam buku “Sistem Komunikasi Indonesia” (Nurudin, 2008 ) mengenai syarat seseorang menjadi pemimpin, termasuk pemuka pendapat:
• Social perception
Pemimpin harus dapat memiliki ketajaman dalam menghadapi situasi
• Ability in abstract thinking
Pemimpin harus memiliki kecakapan secara abstrak terhadap masalah yang dihadapi

• Emotional stability
Pemimpin harus memiliki perasaan stabil, tidak mudah terkena pengaruh dari luar (yang tidak diyakini dan bertolak belakang dengan keyakinan masyarakat) (Nurudin, 2008)

3.1.3 Peran Pengenalan Terhadap Media (Exposure)
Dalam buku “Teori Komunikasi Sejarah, Metode, dan Terapan di dalam Media Massa”, dikatakan bahwa semakin banyak individu yang terbuka pada media berita, semakin besar kecenderungan mereka untuk peduli dengan isu-isu yang diangkat media. Artinya, bahwa semakin sedikit individu yang tidak mengenal media, maka tingkat pengetahuan mereka akan isu-isu media juga sangat rendah (Werner J. Saverin dan James W. Tankard, Jr., 2005).
Bila dikaitkan dengan rendahnya tingkat exposure serta pendidikan masyarakat pedesaan, maka peranan pemuka pendapat di pedesaan menjadi semakin berarti. Pemuka pendapat di pedesaan berbeda dengan di perkotaan dalam memilih media untuk dipakai dalam menyebarkan informasi. Pemuka pendapat di pedesaan menggunakan media rakyat, koran lokal contohnya Koran Masuk Desa, berita lokal pendek, serta peran Pemerintah Daerah; sementara di perkotaan, dipilih media koran dan berita nasional, serta berita-berita yang disajikan mendalam oleh kolumnis media (Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen, 2003)

3.1.4 Prinsip Komunikasi
Salah satu prinsip komunikasi yang dapat dipakai untuk menganalisa peranan pemuka pendapat dalam penyebaran informasi adalah prinsip semakin mirip latar belakang sosial budaya, semakin efektiflah komunikasi (Deddy Mulyana, 2001).
Latar belakang sosial yang dimaksud adalah kesamaan suku, agama, ras, bahasa, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, dan lainnya. Kesamaan hal-hal tersebut dapat membuat komunikasi berjalan dengan lebih efektif, terlebih untuk kesamaan bahasa di mana antara pihak yang satu dengan yang lain dapat memiliki kesamaan pengertian dalam berbahasa.

3.2 Analisis Peran Pemuka Pendapat terhadap Kesuksesan Dukungan JK-Win
3.2.1 Kaitannya dengan Jumlah Dukungan pemuka Pendapat
Pemuka pendapat adalah seseorang yang memiliki kredibilitas di mata masyarakat untuk dapat menyampaikan informasi dan memberikan pendapat, karena tingkat intelektualitas dan pengemalan terhadap media yang lebih tinggi dibandingkan masyarakat lainnya. Satu pemuka pendapat dapat memberikan pengaruh dalam masyarakat. Pengaruh lebih dari satu bidang kehidupan disebut pengaruh yang bersifat polimorfik, sedangkan pengaruh di satu bidang tertentu disebut monomorfik. (Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen, 2003)
Pasangan JK-Win memiliki dukungan lebih dari satu pemuka pendapat, yaitu organisasi Islam, kelompok profesi, kelompok pemuda, raja dan masyarakat Maluku, dan parpol Maluku. Semakin banyak pemuka pendapat yang mendukung, semakin banyak masyarakat yang terwakilkan untuk dapat dipengaruhi pilihannya dalam memilih JK-Win.
Satu hal lagi yang perlu dicermati adalah pertemuan tim kampanye daerah serta raja-raja Maluku di kediaman Jusuf Kalla. Pertemuan secara langsung tersebut membuat peranan pemuka pendapat semakin efektif. Menurut Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen dalam buku “Taksonomi Konsep Komunikasi”, keefektifan para pemuka pendapat tergantung dari faktor:
• Karena dianggap berasal dari kelompok yang sama, maka pemuka pendapat tersebut dianggap tidak memiliki suatu kepentingan tertentu, sehingga dapat dipercaya.
• Ketika komunikasi dilakukan melalui tatap muka (langsung), maka pemuka pendapat dapat dengan mudah menyampaikan pesan dan memberikan responsnya kepada penerima pesan (Reed H. Balake dan Edwin O. Haroldsen, 2003). Raja-raja dari Maluku dengan mudah memberikan dukungan kepada Jusuf Kalla karena prosesnya yang langsung tersebut.

3.2.2 Kaitannya dengan Prinsip Komunikasi Kesamaan Latar Belakang Budaya
Prinsip komunikasi yang mengatakan, semakin mirip latar belakang yang dimiliki, maka akan semakin efektif komunikasi yang terjalin. Hal ini dibuktikan lewat dukungan suara yang diperoleh pasangan JK-Win. Faktanya adalah:
a) Orang tua Jusuf Kalla berlatar belakang agama Islam yang kuat, sehingga Jusuf Kalla mendapat dukungan dari organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, al-Washiliyah, al-Khairat, Nadhlatul Wathan (NW), KAHMI, HMI dan Forum Da’i Muda Indonesia.
b) Jusuf Kalla beristrikan orang Sumatra Barat, sehingga masyarakat Padang yang menjadi tim sukses JK-Win memilihnya. Hal ini dikarenakan asal-usul budaya yang sama, sehingga ada ikatan tertentu yang mempengaruhi perilaku memilih masyarakat,
c) Jusuf Kalla berasal dari timur Indonesia, sementara Wiranto berasal dari barat Indonesia. Keadaan asal-usul geografis inilah yang diyakini masyarakat bahwa pasangan JK-Win mampu mewakili rakyat se-nusantara.
d) Jusuf Kalla dinilai dapat mengatasi perang di Maluku. Peranannya ini mampu mengikat perasaan senasib antara masyarakat Maluku dengan Jusuf Kalla. Masyarakat Maluku merasa Jusuf Kalla mengerti keadaan dan situasi perang yang terjadi pada masyarakat mereka. Persamaan tidak hanya terbentuk dalam suatu latar belakang budaya, tetapi juga perasaan senasib akan suatu peristiwa tertentu.

BAB IV
KESIMPULAN

Pemuka pendapat adalah orang yang memiliki berbagai keunggulan di antara masyarakat sehingga dapat menjadi perantara informasi bagi masyarakat, sehingga dapat mempengaruhi perilaku pembentukan opini dan pengambilan keputusan. Pemuka pendapat di desa contohnya adalah kyai, dukun, tetua kampung, dan pemuka adapt, sedangkan di perkotaan ada pengamat politik, tokoh politik dan pemerintahan, perempuan, para ahli, dosen, organisasi masyarakat, kelompok agamis, dan sebagainya.
Prinsip komunikasi yang mengatakan, semakin mirip latar belakang sosial budaya, semakin efektiflah komunikasi, menjadi pegangan yang penting dalam menentukan keefektifan peranan seorang pemuka pendapat. Pemuka pendapat yang semakin dekat latar belakangnya dengan masyarakat yang mengikutinya, semakin pesan yang disampaikan oleh pemuka pendapat itu efektif. Sebaliknya, semakin jauh hubungan asal-usul budaya antara pemuka pendapat dengan budaya masyarakat yang “mengikutinya”, semakin tidak efektiflah peranan pemuka pendapat tersebut.
Namun mengukur keefektifan peranan pemuka pendapat tidaklah hanya dari satu faktor saja, melainkan ada faktor lain seperti tingkat pendidikan, tingkat pengenalan terhadap media, kemudahan akses terhadap media, sistem komunikasi, dan faktor lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku:

Severin, Werner J. dan James W. Tankard, Jr. Teori Komunikasi Sejarah Metode dan Terapan di dalam Media Massa. Edisi ke-5. Jakarta: Kencana, 2005.
Nurudin. Sistem Komunikasi Indonesia. Edisi Ke-2. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008.
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Cetakan ke-3. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001.
Balake, Reed H. dan Edwin O. Haroldsen, 2003. Taksonomi Konsep Komunikasi. Cetakan ke-1. Surabaya: PT Papyrus Surabaya, 2003

Sumber Lain:

http://www.mambangmit.com/content/view/125/32/

http://74.125.153.132/search?q=cache:bThrYg5TzMwJ:www.kontras.org/poso/tulisan/Jangan%2520Biarkan%2520Perang%2520Fitri%2520dan%2520Kudus.doc+opinion+leader+dalam+politik&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=6560&Itemid=44

http://mdopost.com/news/index.php?option=com_content&task=view&id=21984&Itemid=9

http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/07/02/16120662/Era.Pengamat.Politik.Muda.Tiba

http://www.chartapolitika.com/?GSnevS/hZAXCKWMG

http://www.pemiluindonesia.com/pemilu-2009/pemilu-2009-total-jumlah-pemilih-171265442-orang.html

http://www.inilah.com/berita/pemilu-2009/2009/06/05/112766/berjibun-dukungan-jk-win-blunder/

http://www.sumbawanews.com/berita/opini/dinamika-politik-lokal-menjelang-pemilu-2009.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: